Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Kalteng Masduki, di Palangka Raya, Senin, berdasarkan laporan pendahuluan studi kelayakan perusahaan multinasional asal Jepang tersebut.
"Dari hasil summary yang disampaikan Itochu sebelum memulai studi kelayakan, disebutkan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membangun jaringan rel kereta api awal sepanjang 183,5 kilometer dari Puruk Cahu hingga Mengkatip," katanya.
Studi kelayakan Ithochu akan dimulai awal Agustus mendatang dan dilanjutkan dengan Detail Engineering Design (DED) sebelum masuk tahap konstruksi bangunan yang direncanakan dimulai di tahun 2008.
Biaya pembuatan DED selama setahun kerja diperkirakan senilai US$2,5 juta atau sekitar Rp23 miliar atau bila dipercepat selama enam bulan menjadi US$3,5 juta atau Rp32 miliar.
Secara keseluruhan proyek pembangunan jaringan rel kereta api yang dirancang Itochu itu meliputi pembangunan infrastruktur transportasi antar moda untuk mengangkut bahan galian tambang batubara dari wilayah Utara Kalteng.
Keseluruhan proyek itu mencakup pembangunan jalur rel beserta fasilitas pendukungnya yaitu stasiun, gerbong, dan pelabuhan bongkar muat, pengerukan alur sungai hingga pelabuhan lepas pantai (off shore) di Muara Sungai Kapuas.
"Nantinya produksi batubara akan diangkut secara bertahap dari lokasi muat kereta api di Puruk hingga ke Mengkatip, kemudian dilanjutkan moda transportasi tongkang hingga masuk vessel di pelabuhan curah lepas pantai," jelas Masduki.
Perusahaan Jepang itu akan membangun proyek itu menggunakan model kemitraan antara pemerintah dan swasta (public private partnership) diantaranya dengan menggandeng Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan investor swasta lain.
Selain Itochu, pada saat yang hampir bersamaan juga tengah dilakukan studi kelayakan dari China Railways Engineering Corporation (CREC) di Kalteng meski menawarkan jalur rel kereta api yang berbeda. Studi kelayakan CREC sedikit lebih lambat dari Itochu karena MoU-nya juga lebih lambat. (*/rsd)