Pembentukan Holding Trans Jawa Tidak Perlu Tender
Kapanlagi.com - Pembentukan holding (perusahaan induk) Tol Trans Jawa seharusnya tidak perlu tender mengingat dalam koridor tersebut sudah terdapat tol yang beroperasi (existing) sehingga seharusnya diserahkan kepada PT Jasa Marga. "PT Jasa Marga dalam koridor Tol Trans Jawa telah mengoperasikan tol Jakarta - Cikampek, Palimanan - Kanci, Semarang seksi A, B, C, Surabaya - Gempol, seharusnya dari hitung-hitungan kita menjadi mayoritas," kata Direktur Utama PT Jasa Marga, Frans S. Sunito di Bandung akhir pekan ini dalam acara gathering dengan wartawan. Frans mengatakan, kemungkinan yang dimaksud dengan tender Holding Tol Trans Jawa bukan holdingnya namun kekurangan investasi dari ruas tol tersebut. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto kepada wartawan sebelumnya mengatakan, untuk menentukan perusahaan induk dari Tol Trans Jawa maka tetap harus melalui mekanisme tender. Saat ini sejumlah investor asing seperti Macguire dan Khasanah Bhd juga telah menyatakan minatnya untuk ikut serta dalam tender pembentukan Holding Tol Trans Jawa apabila memang dibuka. Menurut Frans, mengenai konsep Holding itu sendiri sampai saat ini masih belum jelas, mengingat masih dibahas di tingkat menteri (Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Negara BUMN, Menteri Koordinator Perekonomian). Namun, kata Frans, kemungkinan yang ditenderkan kekurangan investasi dari Holding Tol Trans Jawa. Dengan demikian sebelum dibentuk nantinya akan ada perusahaan jasa penilai independen untuk mengetahui kekurangan investasi dalam koridor tol Trans Jawa. "Jadi nanti akan dihitung berapa ruas yang sudah operasi dan sudah ada investornya. Katakanlah Y jadi kalau kebutuhan investasi total Tol Trans Jawa X berarti yang ditenderkan kekurangannya (X-Y)," ujarnya. Pembangunan Tol Trans Jawa sepanjang 947 kilometer membutuhkan investasi Rp52 triliun. Berarti yang ditenderkan Rp52 triliun dikurangi yang sudah existing dan akan operasi. Saat ditanyakan apakah PT Jasa Marga tidak terlalu ekspansif dengan masuk dalam holding. Frans mengatakan, sejauh ini masih masuk dalam hitung-hitungan perusahaan meskipun saat ini PT Jasa Marga harus membangun membangun tiga ruas tol (Bogor Ring Road, Semarang - Solo, Gempol - Pasuruan) ditambah JORR (Jakarta Outer Ring Road) W2 (Ulujami - Kb Jeruk), serta keterlibatan pembangunan Jalan Lingkar Luar Jakarta ke-2 (JORR2). Menurut Frans pihaknya sudah menghitung kemampuan perusahaan dalam mendapatkan kredit dari bank, serta berapa berapa pendapatan yang disisihkan dari ruas-ruas yang sudah beroperasi untuk membayar cicilan hutang berikut bunga. Mengingat pengeluaran terbesar dalam investasi di tol adalah membayar bunga dan cicilan kredit. Terkait hal itu pemerintah diminta tetap harus konsisten untuk menyesuaikan tarif secara berkala setiap dua tahun sekali dari ruas-ruas tol yang sudah kita operasikan sesuai aturan yang berlaku (PP No. 15 tahun 2005 tentang jalan tol dan UU Jalan No. 38 tahun 2004). "Ini untuk menjaga arus kas kita," ujarnya. (*/rsd) |