Persenjataan itu, yang mencakup peluncur mortir, ditemukan di Thoppigala yang dikuasai pasukan keamanan pada Juli setelah bulan-bulan pertempuran hebat untuk menghalau gerilyawan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE).
"Pasukan angkatan darat yang melakukan operasi pencarian menemukan sejumlah besar senjata, peledak dan peralatan di Thoppigala pada Minggu," kata Kementerian Pertahanan Srilanka dalam sebuah pernyataan.
Pada akhir pekan, Angkatan Laut Srilanka menyatakan, mereka telah menghancurkan dua kapal yang diduga milik Macan Tamil di lepas pantai baratlaut negara pulau itu, menewaskan sedikitnya enam pemberontak.
Kapal-kapal patroli angkatan laut menyergap kapal-kapal tersebut di lepas pantai Mannar, kata sejumlah pejabat angkatan laut.
LTTE selama 35 tahun ini mengobarkan perang untuk mendirikan negara merdeka bagi penduduk minoritas Tamil. Konflik itu telah menewaskan lebih dari 60.000 orang.
Perundingan perdamaian yang ditengahi Oslo mengalami kegagalan Oktober tahun lalu dan sejak itu usaha-usaha diplomatik gagal mengakhiri aksi kekerasan dalam konflik etnik tersebut.
Lebih dari 5.200 orang tewas dalam gelombang terakhir pertempuran yang meletus pada Desember 2005 meski gencatan sejata diberlakukan sejak 2002.
Presiden Srilanka Mahinda Rajapakse telah memberikan pilihan kepada Macan Tamil untuk memutuskan antara perang dan damai, namun ia tetap membuka pintu bagi dimulainya lagi perundingan-perundingan dengan kelompok pemberontak tersebut.
"Perang atau damai, kami siap," kata presiden tersebut dalam wawancara dengan surat kabar Daily News beberapa hari lalu. "Keputusan itu berada di tangan mereka. Kini terserah Macan Tamil untuk memutuskan jalan yang mereka ingin tempuh."
"Kami tidak pernah ragu-ragu untuk berunding dan kami tidak pernah meninggalkan meja perundingan, LTTE lah yang selalu meninggalkan perundingan di tengah jalan," kata Rajapakse. (*/cax)