< >

Rice Peringatkan Soal Ancaman Yang Ditimbulkan Iran di Timteng

Rabu, 01 Agustus 2007 07:15
Kapanlagi.com - Menlu Amerika Serikat Condoleezza Rice memperingatkan soal ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap kepentingan Amerika di Timur Tengah pada awal kunjungan ke sekutu AS di kawasan.

Menlu Rice dan Menhan Robert Gates bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak dan para menteri Arab di kawasan wisata pesisir Laut Merah, Sharm el-Sheikh.

Pertemuan ini berlangsung sementara Washington mengukuhkan rencana menjual persenjataan dalam jumlah besar ke kawasan.

Kunjungan ini bertujuan untuk mempersatukan para sekutu Amerika untuk menghadapi Iran, Suriah dan Hizbullah.

Rice menepis tudingan Iran bahwa politik Amerika menyebarkan ketakutan di Timur Tengah.

Jurunicara kementerian luar negeri Iran Mohammad Ali Hosseini menuduh Amerika mencemari hubungan baik di antara negara-negara di kawasan.

Program nuklir Iran dan pengaruh negara itu di kalangan kelompok-kelompok militan muslim Syiah sudah lama menjadi sumber kekhawatiran Amerika.

Saat singgah di Shannon, Irlandia, Rice mengatakan kepada wartawan: "Tidak ada keraguan, saya rasa, Iran merupakan satu tantangan saling penting oleh satu negara terhadap ... kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah dan kondisi Timur Tengah yang kita ingin saksikan."

Ini merupakan kunjungan bersama kedua menteri Amerika itu ke kawasan.

Mereka akan berkunjung ke Mesir dan Arab Saudi secara bersama, dan ke negara-negara lain secara terpisah.

Gates mengatakan kepada wartawan bahwa para pejabat Amerika ingin "menegaskan kembali kepada semua negara bahwa politik yang ditempuh (Presiden AS George W Bush) di Irak selama ini dan akan terus menjadikan stabilitas dan keamanan kawasan sebagai prioritas yang sangat tinggi".

Transaksi Senjata

Negara yang menerima manfaat terbesar dari program penjualan persenjataan Amerika tersebut di kawasan adalah Israel, Mesir dan Arab Saudi.

Bantuan 30 miliar dolar kepada Israel dalam masa 10 tahun ke depan mendatangkan kenaikan 25% dari jumlah saat ini.

Negara Yahudi itu mengatakan, paket bantuan itu akan memungkinkan negara itu mempertahankan "keunggulan kualitatif" militer di kawasan.

Penjualan bom yang dipandu satelit ke Arab Saudi -- penjualan pertama senjata semacam ini ke negara Arab -- diyakini bagian dari kesepakatan penjualan senjata senilai US$20 miliar ke Arab Saudi dan beberapa negara teluk lain, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain dan Oman.

Selama kunjungan lobi ke kawasan, Rice dan Gates diperkirakan akan meminta Raja Arab Saudi, Abullah agar berbuat lebih banyak untuk mendukung pemerintah Irak pimpinan Perdana Menteri Nouri Maliki.

Dubes AS untuk PBB, Zalmay Khalilzad menuduh Arab Saudi menggerogoti upaya untuk menstabilkan Irak.

Transaksi persenjataan itu memerlukan persetujuan Kongres dan tampaknya akan menghadapi keberatan.

Dua anggota Kongres dari Partai Demokrat, Anthony Weiner dan Jerrold Nadler dari New York mengatakan, pada akhir pekan, mereka akan mengajukan undang-undang untuk menghalangi bantuan militer kepada Arab Saudi. (bbc/lpk)