Permintaan itu disampaikan melalui surat ditujukan kepada Menteri Perhubungan, serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. "Surat itu sudah cukup lama kami kirim, mengingat penerbangan antar negara merupakan kebijakan pemerintah pusat," kata Kepala Dinas Pariwisata Bali Drs I Gede Nurjaya di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, semakin banyak penerbangan langsung dari luar negeri, khususnya dari pasar-pasar potensial turis, akan sangat mendukung perkembangan pariwisata Pulau Dewata.
Hal ini penting guna mempercepat pemulihan kunjungan wisatawan mancanegara setelah Bali mengalami kelesuan pasca tragedi bom 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005.
Berbagai upaya pemulihan telah dilakukan, antara lain melalui promosi langsung ke negara-negara potensial. Kerja keras itu kini mulai membuahkan hasil dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Namun membaiknya kunjungan wisman itu belum diimbangi dengan kemampuan pelayanan penerbangan langsung dari luar negeri ke Bali.
Oleh sebab itu Gubernur Bali sejak dini telah bersurat kepada pemerintah pusat agar mengantisipasi keterbatasan penerbangan ke Pulau Dewata, dengan memberikan berbagai kemudahan.
Melalui pemberian berbagai kemudahan, diharapkan penerbangan asing tertarik melayani jalur penerbangan langsung dari berbagai negara ke Bali, ujar Nurjaya.
Penerbangan asing yang melayani jalur penerbangan ke Bali selama ini berasal dari tujuh negara, yakni Singapura, Thailand, Hongkong, Jepang, Taiwan, China dan Australia.
Bahkan penerbangan langsung dari China ke Bali berdasarkan informasi dari pihak Garuda sudah penuh hingga Agustus mendatang. Hal itu menunjukkan pariwisata Bali secara berangsur-angsur sudah pulih kembali, meskipun perlu berbagai upaya dalam meningkatkan kunjungan turis ke Bali.
Sejak Maret 2007, juga ada tambahan penerbangan Qatar Airways dari Doha, hanya saja transit dulu di Kuala Lumpur, Malaysia, baru melanjutkan penerbangan ke Bandara Ngurah Rai.
Sementara Ketua BPD PHRI Bali, Ir Tjok Oka Artha Ardana Sukawati mengaku cukup banyak menerima komplain dari calon wisatawan mancanegara yang tidak kebagian tiket untuk terbang ke Bali.
"Jika masalah itu tidak dapat ditangani secara tuntas, kami khawatir akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan pariwisata Bali ke depan," ujar tokoh yang akrab disapa Cok Ace itu.
Ia berharap pemerintah pusat segera dapat memecahkan masalah tersebut, karena persoalan seperti itu merupakan masalah klasik disaat ramainya kunjungan wisman ke Bali.
Kunjungan wisman ke Bali mulai Agustus hingga beberapa bulan ke depan, biasanya bertambah dibanding bulan-bulan sebelumnya, sehingga perlu perhatian pemerintah pusat agar masalah penerbangan dari luar negeri ke Bali dapat diatasi dengan baik, harap Cok Ace. (*/rit)