"Kalau melihat frekuensi kunjungan, wisatawan yang datang adalah wisatawan yang mengulang atau repeater sebanyak 67 % sedangkan wisatawan yang baru pertama kali datang berjumlah 33 %," kata Kepala Biro Neraca Pembayaran Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Hendy Sulistyowaty dalam Workshop Tourism Satelit Account (TSA) di Jakarta, Kamis.
Hendy mengatakan untuk rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 9 hari, kebanyakan wisatawan yang datang ke Indonesia berjenis kelamin laki-laki dengan pola perjalanan berlibur.
"Sedangkan rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan yaitu US$913 ," lanjut Hendy.
Dia menambahkan untuk tahun 2005, pendapatan inflow sekitar US$4,8 miliar .
"Kami memperkirakan lebih banyak wisatawan mancanegara akan berlibur ke Indonesia karena kondisi Indonesia sekarang yang lebih baik," kata Hendy.
Sementara itu, Mantan Menbudpar I Gede Ardika yang juga menjadi pembicara dalam acara tersebut mengatakan angka 67% wisatawan repeater menjadi indikator yang baik untuk pariwisata Indonesia bila itu merupakan wisatawan yang memang bertujuan untuk berlibur.
"Enam puluh tujuh persen itu merupakan indikator yang baik. Itu menandakan bahwa produk-produk pariwisata kita telah memenuhi kepuasan wisatawan," kata Ardika.
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2006 setoran devisa dari sektor pariwisata menurun 2,2 % dari US$4,5 miliar pada 2005 menjadi US$4,4 miliar akibat penurunan jumlah wisatawan mancanegara (wisman).
"Jumlah wisman yang datang melalui seluruh pintu masuk pada tahun 2006 mencapai 4,87 juta orang atau turun 2,61 % dibanding tahun 2005 sebanyak 5 juta orang," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan dalam jumpa pers awal tahun 2007 silam.
Dia mengatakan jumlah wisman yang masuk melalui 13 pintu masuk pada Desember 2006 mencapai 388,4 ribu orang, atau naik 6,39 % dibanding November 2006 365,0 ribu orang.
Secara kumulatif Januari-Desember, jumlah wisman yang masuk melalui 13 pintu masuk mencapai 3,98 juta orang atau turun 2,38 % dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 4,07 juta orang.
"Meski penurunan pengeluaran per kunjungan, namun dan rata-rata lama tinggal wisman meningkat," katanya.
BPS menyebutkan berdasarkan hasil penelitian terhadap wisman yang akan meninggalkan Indonesia (Passenger Exit Survey-PES) menunjukkan bahwa rata-rata lama tinggal wisman di Indonesia pada tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 0,44 %, yaitu dari 9,05 hari menjadi 9,09 hari.
Peningkatan lama tinggal ini berdampak pada pengeluaran mereka per kunjungan yang mengalami kenaikan 1,01 %, yaitu dari US$904,00 US$913,09 . Begitu juga dengan rata-rata pengeluaran mereka per hari mengalami kenaikan sebesar 0,62 % dari US$99,86 menjadi US$100,48.
"Jadi target Departemen Budaya Pariwisata memang tidak tercapai karena nyatanya jumlah wisman menurun. Dan itu berdampak pada penerimaan devisa yang juga turun," katanya.
Pemerintah sendiri menargetkan kunjungan wisman pada 2006 mencapai 5,5 juta orang dan tujuh juta orang pada 2007.
Sementara itu, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di 10 Daerah Tujuan Wisata (DTW), katanya, pada November 2006 mencapai rata-rata 45,49 %, atau naik 2,73 poin dibanding TPK Oktober 2006 42,76 %.
"Sedangkan TPK hotel berbintang di Bali turun dari 46,12 % pada Oktober 2006 menjadi 45,80 % pada November 2006," katanya.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama November 2006 adalah 2,14 hari, atau turun 0,16 hari jika dibanding oktober 2006. (*/rsd)