"Tingkat Kemiskinan perlu diturunkan melalui program pengembangan sektor riil," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan, Rachmat Gobel, di Jakarta, Kamis.
Kadin, lanjut dia, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tidak didukung oleh pertumbuhan sektor riil yang meliputi sektor pertanian, pertambangan, dan manufaktur, sehingga angka kemiskinan dan pengangguran sulit ditekan. Sektor riil merupakan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Pertumbuhan ekonomi, kata dia, saat ini lebih didukung oleh sektor jasa dan konsumsi yang mencakup sektor jasa konstruksi, keuangan, transportasi, komunikasi, perdagangan, hotel, dan jasa lainnya yang lebih sedikit menyerap tenaga kerja.
"Sejak krisis ekonomi 1998, pertumbuhan ekonomi belum diikuti oleh meluasnya kesempatan kerja baru," ujar Rachmat.
Ia mengatakan sektor riil baik terutama manufaktur atau industri, dan pertanian, perlu kebijakan dan langka aksi yang komprehensif untuk direvitalisasi dan dibangkitkan kembali menjadi mesin pendorong pertumbuhan kesempatan kerja dan ekspor non migas.
Rachmat mengatakan tingkat kemiskinan yang terjadi saat ini terutama terjadi di daerah pedesaan yang identik dengan sektor pertanian. Ia mencontohkan pada 2005 dari total penduduk miskin sekitar 35 juta orang sebanyak 22,7 juta orang diantaranya berada di daerah pedesaan.
"Pengangguran di daerah pedesaan perlu diserap dalam program pengembangan industri berbasis sumber daya alam dan industri kecil dan menengah (IKM)," katanya.
Oleh karena itu, dalam Roadmap 2010 dan Visi 2030 Pengembangan Industri Nasional yang disusun Kadin Indonesia, kata dia, melihat pentingnya pengembangan industri berbasis budaya yang berada di daerah-daerah sebagai salah satu industri yang bisa dikembangkan untuk mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan.
Sejumlah industri berbasis budaya yang diusulkan Kadin untuk dikembangkan secara intensif dengan dukungan pemerintah antara lain industri jamu, batik dan tenun, kerajinan, dan industri berbasis kayu seperti mebel.
"Hanya dengan dukungan terhadap pengembangan sektor riil yang serius, pemerintah bisa menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas untuk mendorong kesempatan kerja yang luas, mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia," ujar Rachmat. (*/rsd)