Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Syahbenol Hasibuan di Yogyakarta, Kamis mengatakan mengatakan, akibat gempa tahun lalu kerajinan batik di DIY sempat terhenti produksinya karena tempat usaha para perajin mengalami kerusakan.
"Pascagempa produksi kerajinan batik di DIY terhenti cukup lama, namun sekarang mula berproduksi lagi," katanya.
Ia menyebutkan usaha kerajinan batik di provinsi ini tersebar di beberapa daerah, dan jumlahnya mencapai ratusan perajin.
Di wilayah Kota Yogyakarta pusat kerajinan batik di antaranya di Tirtodipuran, Prawirotaman dan Panembahan. Di Kabupaten Bantul antara lain di Wijirejo, Wukirsari dan Murtigading.
Kemudian di wilayah Kabupaten Gunungkidul sentra kerajinan batik di antaranya di Nitikan dan Ngalang. Di Kabupaten Kulonprogo antara lain di Hargomulyo serta Sidorejo. Sedangkan di Kabupaten Sleman di antaranya di Mlangi.
Menurut dia, motif batik hasil perajin di DIY beraneka macam, di antaranya motif parang, ceplok, geometri, nitik, dan banji.
Sekarang ini hasil kerajinan batik tidak hanya berupa pakaian jadi, tetapi sudah berkembang untuk sprei, gorden, dan bahkan sarung bantal.
"Kerajinan batik tidak hanya untuk membuat pakaian resmi, tetapi sudah berkembang untuk keperluan membuat barang jadi lainnya," kata dia.
Syahbenol mengatakan, beragam motif batik sudah ada sejak batik mulai dikembangkan ratusan tahun lalu.
"Sampai sekarang kerajinan batik tetap dilestarikan dan dikembangkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi," katanya.
Ia mengatakan perajin batik terus meningkatkan kreativitasnya dengan mengembangkan motif-motif modern disesuaikan dengan perkembangan zaman serta selera konsumen. "Ini dilakukan agar batik tetap diminati konsumen," kata dia. (*/rsd)