"Ekspor berbagai produk China naik 27,5% senilai US$546,7 miliar dalam semester pertama 2007 dibanding periode sama 2006," kata Wakil Menteri Perdagangan Gao Hucheng, seperti dikutip China Daily, di Beijing, Jumat (03/08).
Ekspor untuk sejumlah produk seperti makanan, obat-obatan dan mainan anak-anak, yang selama ini sering mendapat kritikan terkait standarnya, juga mengalami peningkatan.
Ekspor produk makanan misalnya, naik 22,2%, obat-obatan naik 41%, dan ekspor mainan anak-anak naik 27,7%.
Naiknya nilai ekspor tersebut, kata Gao, menunjukkan kebanyakan importir, pengecer, dan konsumen di dunia masih bisa menerima produk China. Hal itu berarti produk China yang bermasalah persentase jumlahnya sangat kecil dibanding ekspor barang yang dilakukan China di seluruh dunia.
Dirinya mencontohkan, nilai ekspor pasta gigi China, yang juga mendapat sorotan tajam soal standarisasi, hanya US$80 juta dari total ekspor US$970 juta tahun 2006. Dalam kenyataannya, nilai ekspor pasta gigi bermerek, yang mengandung salah satu zat berbahaya, ke Amerika Serikat hanya US$3,3 juta.
Karena itu , kata Gao, dirinya meragukan sejumlah pihak yang menilai kualitas seluruh produk buatan China tidak melihat dengan cara yang "ilmiah", seraya menyebutkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Jepang, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan menunjukkan bahwa 99,42% makanan China ke Jepang adalah aman, lebih tinggi dibanding makanan asal Amerika Serikat 98,69% dan dari Uni Eropa 99,38%.
"Kualitas produk China selalu diperbaharui setiap tahunnya," katanya. Ia mencontohkan, sekitar 94% sayur-sayuran yang tumbuh di China lulus uji kandungan pestisida selama semester pertama 2007, 12 poin lebih tinggi dibanding 2003.
Gao memberikan jaminan bahwa seluruh produk ekspor yang dihasilkan adalah aman, dan sejumlah perusahaan domestik menilai tetap memperbaharui kualitas lebih baik adalah cara untuk memenangkan pasar internasional.
Terkait dengan masalah kualitas produk dan keamanan makanan sulit dilakukan terutama sekali disebabkan sejumlah perusahaan tidak peduli terhadap tanggung jawab sosialnya.
Pemerintah, katanya, mencoba untuk meminimalkan dampak laporan negatif dan sebanyak 429 perusahaan telah dihukum terkait dengan memproduksi makanan di bawah standar. Sementara beberapa perusahaan mengemukakan telah menghentikan ekspor produknya.
Gao menyatakan siap melakukan kerja sama internasional untuk membicarakan masalah keamanan makanan.
"Sikap saling menyalahkan di antara sesama negara tidak akan menyelesaikan masalah. memperkuat kerja sama internasional merupakan satu-satunya cara efektif untuk menyelesaikan masalah itu,".
Dirinya menyarankan memperdalam kekuatan hukum dan undang-undang melalui kerja sama internasional, seperti dengan membentuk suatu sistem darurat untuk menyelesaikan masalah kualitas produk sesama anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). (*/rit)