"Perekonomian di Jateng pada triwulan I tahun 2007 tumbuh 5,53% sehingga sektor pertanian harus memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini untuk menangkap peluang usaha," katanya, di Semarang, Sabtu.
Menurut dia, program restrukturisasi sektor pertanian perlu dilakukan dengan segera karena dampaknya bisa berpengaruh besar terhadap perkembangan perekonomian di Jateng pada masa mendatang.
Solichedi mengakui, sektor pertanian di Jateng saat ini belum mempunyai nilai tambah yang signifikan karena harga masih dikendalikan pemerintah. Namun, sektor pertanian memiliki potensi memberi kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar 19,90%.
"Pertanian merupakan kekuatan untuk menggerakkan roda perekonomian sehingga Jateng harus mengambil peran sebagai pendorong pertumbuhan sektor pertanian melalui berbagai program kebijakan," katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jateng, Anung Sugihantono mengatakan, pertumbuan sektor pertanian hingga saat ini masih mempunyai kendala seperti rendahnya kuantitas/kualitas produksi, kesejahteraan petani masih rendah, dan belum terciptanya hubungan sinergis antar pelaku usaha pertanian.
Hal itu, kata dia, masih ditambah lagi dengan lemahnya koordinasi dan birokrasi lembaga terkait, kebijakan ekonomi makro yang belum berpihak kepada petani, dan belum tersedianya data pertanian yang memadai untuk kepentingan investasi.
"Program yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi Jateng untuk menggerakkan sektor pertanian, antara lain melalui program diversifikasi, intensifikasi, dan rehabilitasi," katanya. (*/rit)