Sedikitnya 17 tokoh bisnis dari perusahaan-perusahaan top Jepang, berikut sejumlah mantan duta besar Jepang yang tergabung dalam The International Friendship Exchange Council (FEC) memenuhi undangan Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar untuk makan malam yang digelar di Wisma Duta, tempat kediaman resmi dubes Indonesia.
Rombongan FEC dipimpin langsung oleh Presiden FEC Kunihiko Saito, mantan Wakil Menlu Jepang dan pernah menjadi Dubes Jepang untuk Amerika Serikat (AS). Pimpinan perusahaan top di Jepang serta sejumlah profesor dari universitas ternama juga turut hadir.
Dalam pertemuan yang berlangsung ramah itu, masing-masing pihak juga sempat bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan termasuk kunjungan PM Abe ke Jakarta pada 19 Agustus mendatang.
Kunjungan Abe ke Jakarta adalah untuk menandatangani perjanjian kerjasama ekonomi EPA (Economic Partnership Agreement) yang membuka kesempatan bagi produk-produk dan tenaga kerja semi professional Indonesia memasuki pasar Jepang.
Sebelum memulai jamuan makan malam, Dubes Jusuf Anwar terlibat pembicaraan hangat dengan Kunihiko Saito, koleganya saat Saito menjadi Presiden JICA (Japan International Cooperation Agency).
Dalam sambutannya, Saito menekankan pentingnya peran Asean bagi masa depan Jepang dan juga sebaliknya, sehingga perlu membangun hubungan saling pengertian dalam jangka panjang. Khusus mengenai hubungan dengan Indonesia, ia mengakui perlunya menjalin hubungan yang lebih mendalam dan kerjasama yang lebih kuat, terlebih pengaruh dari dinamika sosial dan ekonomi di masing-masing negara.
Ia juga mengemukakan pentingnya memberi makna baru dari peringatan 50 tahun hubungan bilateral kedua negara. Terutama bagi generasi mendatang yang akan melanjutkan hubungan kerjasama itu.
"Pada Februari tahun depan, FEC juga akan mengutus Senior Vice President FEC Kazumasa Hanioka ke Jakarta berkaitan dengan hubungan penting tersebut," ujarnya.
Indonesia-Jepang secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada 20 Januari 1958. Kedua negara juga sepakat menggelar berbagai kegiatan yang memfokus hubungan "people to people" untuk memperingati setengah abad hubungan bilateral itu.
Peran FEC
Tokoh-tokoh yang tergabung dengan FEC merupakan komunitas yang memiliki kaitan erat dengan dunia bisnis di Jepang. Mereka juga memiliki hubungan mesra dengan pemerintah Negeri Sakura itu, yang ditandai dengan banyaknya mantan pejabat pemerintah yang memimpin FEC.
Selain itu, anggota FEC juga merupakan anggota Keidanren atau Federasi Bisnis Jepang (FBJ), yang banyak memberikan pengaruh bagi kegiatan bisnis dan ekspansi investasi perusahaan Jepang di luar negeri.
FEC merupakan instrumen bagi pemerintah Jepang untuk memperlancar diplomasi negara tersebut di luar negeri. Namun demikian, FEC juga memiliki keunikan dari hubungan tersebut.
FEC bisa menggerakan opini publik baik di dalam maupun di luar negeri mengingat peran perusahaan-perusahaan top Jepang di manca negara, sehingga terkadang menjadi penasehat pemerintah, seperti halnya kementrian luar negeri Jepang sendiri.
Jamuan makan malam dihadiri antara lain Tadao Chino, penasehat senior Nomura Research Institute Ltd dan juga mantan President Asian Development Bank (ADB). Takehiro Togo, penasehat senior Mitsui Global Strategic, yang juga mantan dubes Jepang di Rusia.
Joji Suzuki, pimpinan Sojitz Coorporation, perusahaan yang menawarkan investasi di Indonesia saat kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke Jepang baru-baru ini.
Kemudian Makota Satani, pimpinan Nippon Oil Corporation. Yasushi Yamawaki, pimpinan Nippon Yusen Kaisha serta Seigou Mizunuma, Executive Managing Officer Electric Power Development Co.
Ikut hadir Tatsuru Hosomi, Direktur Hubungan Internasional Tokyo Electric Power Company (TEPCO). TEPCO merupakan pemilik PLTN terbesar di Jepang serta Kunihiko Matsuo, pimpinan INPEX Corp. (*/rit)