Keterangan yang dihimpun di lokasi kejadian, Rabu, menyebutkan, aksi brutal puluhan siswa itu dilakukan setelah sejumlah guru memprovokasi siswa agar melakukan aksi tersebut.
Dengan cara menggulingkan kursi dan meja, puluhan siswa berseragam putih dan merah itu juga melakukan pelemparan benda keras ke arah rumah pengurus yayasan yang letaknya tidak jauh dari bangunan sekolah.
Asep, salah seorang siswa kelas IV yang ditanya wartawan, mengatakan, aksi itu dilakukan setelah para siswa diminta guru untuk melakukan aksi demo setelah ada informasi kepala sekolah akan dimutasi.
"Kami disuruh oleh Pak Dedi, salah seorang guru kelas IV untuk melakukan aksi demo dengan cara seperti itu. Kami tidak tahu apa-apa, kami hanya melaksanakan perintah guru," kata Asep yang diamini puluhan rekannya usai melakukan aksi pelemparan rumah pengurus yayasan.
Adanya aksi itu sempat membuat ketua yayasan Al Furqon, Djamaludin, ketakutan dan minta batuan sejumlah orangtua siswa untuk menghentikan aksi anak-anak mereka tersebut.
Djamaludin juga membenarkan adanya rencana mutasi kepala sekolah Suherman yang kini masih dibicarakan dengan instansi terkait.
Setelah sejumlah orang tua siswa turun tangan, akhirnya aksi brutal siswa berhasil diredam dan puluhan siswa membubarkan diri dibawa pulang oleh orangtua mereka masing-masing.
Terkait dengan aksi provokasi salah seorang guru agar puluhan siswa berlaku brutal, Ayi (40) orangtua siswa, mengaku kecewa dan prihatin dengan tindakan guru yang telah memanfaatkan anak didiknya untuk melakukan hal seperti itu.
"Anak-anak kami tidak tahu apa-apa dan tidak akan bertindak brutal kalau tidak diprovokasi oleh gurunya. Untuk itu kami minta pertangungjawaban oknum guru tersebut dan kami minta agar kegiatan belajar kembali normal," katanya. (*/cax)