"Saya yakin, saya percaya...jika Afghanistan dan Pakistan bekerjasama, kita akan melenyapkan dalam satu hari tekanan terhadap kedua negara," kata Karzai dalam pidato pembukaan dalam pertemuan anti teror tiga hari.
"Masa depan kita dan nasib kita akan terjalin," kata Karzai dalam pertemuan yang diselenggarakan untuk mencari jalan menghentikan ancaman Al Qaeda dan Taliban yang meningkat.
Ia mengatakan negara-negara bertetangga itu, yang saling tuduh menyangkut akar kerusuhan, harus menemukan penyelesaian bersama.
"Jika masalah itu dari Afghanistan, kita harus mencari jalan menyelesaikannya. Jika masalah itu di Pakistan, kita harus mencari penyelesaiannya," katanya.
Presiden itu mengatakan ia menganggap aksi kekerasan yang berkaitan Taliban di Afghanistan adalah bukan perbuatan warga Afghanistan.
"Ini adalah kerja dari unsur-unsur non Afghanistan. Ini adalah kerja dari musuh-musuh Afghanistan dan Islam," katanya.
Karzai berada disamping PM Pakistan Shaukat Aziz di hadapan sekitar 700 utusan pada "Jirga perdamaian."
Presiden Pakistan Perves Musharraf tidak hadir dalam pertemuan itu, karena ada satu rapat di Islamabad, di mana pada hari Kamis ia dilaporkan akan mempertimbangkan pemberlakuan keadaan darurat sehubungan dengan meningkatnya aksi kekerasan dalam waktu belakangan ini.
Kemlu Afghanistan mengatakan sebelumnya bahwa ketidakhadiran Musharraf tidak memberikan pengaruh besar pada hasil pertemuan itu, yang dirancang sebagai satu kesempatan bagi para pemimpin suku untuk menyusun satu strategi menghadapi ancaman terorisme yang meningkat.
Pertemuan Jirga (majelis) itu diselenggarakan di tengah-tengah keamanan yang ketat di sebuah tenda putih besar yang dipasang di kompleks perguruan tinggi di barat Kabul.
Karzai juga menggunakan kesempatan itu untuk mengecam penculikan wanita-wanita yang dilakukan Taliban yang menurutnya mencemarkan nama baik Afghanistan.
Kelompok garis keras itu menahan 16 wanita Korea Selatan dan lima pria sejak 18 Juli. Dua pria sandera telah dibunuh.
"Tidak pernah terjadi dalam sejarah Afghanistan kita menculik wanita," kata Karzai, yang menyebutkan penyanderaan wanita sebagai satu penistaan "bersejarah".
Para pemimpin itu mewakili suku-suku yang daerahnya terletak di perbatasan terpencil dan bergunung-gunung antara Afghanistan dan Pakistan di mana Taliban dapat menghimpun kembali kekuatan sejak digulingkan dari pemerintah oleh pasukan pimpinan AS akhir tahun 2001.
Wilayah itu juga sebagai lokasi kakitangan Al Qaeda, dan Washington menuduh pihak berwenang Pakistan mengizinkan zona-zona suku itu menjadi tempat berlindung dari mana serangan-serangan gerilyawan dapat direncanakan dan dilaksanakan.
Keamanan ketat di sekitar lokasi pertemuan itu, dan ratusan polisi dan tentara mematroli daerah tersebut.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dipimpin NATO menempatkan kendaraan-kendaraan lapis baja d sekitar fasilitas pendidikan itu.
Sekitar 2.500 polisi tambahan dan sejumlah tentara telah dikerahkan terutama untuk pertemuan majelis itu, kata para pejabat dan menambahkan mobil-mobil yang bergerak di sekitar kota itu diperiksa. (*/lpk)