< >

Kualitas Rendah, Newmont Tak Pesan Daging Dari RPH Banyumulek

Sabtu, 11 Agustus 2007 20:07
Kapanlagi.com - Keberadaan Ruman Potong Hewan (RPH) bertaraf internasional di Banyumulek, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) semula diharapkan dapat mensuplai kebutuhan daging bagi PT.

Newmon Nusa Tenggara (NNT) di Batu Hijau, Sumbawa Barat. Seorang anggota DPRD NTB, Lalu Abdulhadi Faishal di Mataram, Sabtu (11/08) mengatakan, keberadaan perusahaan raksasa di depan "hidung" tidak bisa dimanfaatkan oleh RPH Banyumulek, karena kemampuan menyediakan daging berkualitas yang dibutuhkan PT. NNT rendah.

"Karena itu tidak mengherankan kalau PT. NNT harus mendatangkan daging dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan daging bagi ribuan karyawannya.

RPH tersebut dikelola PT. Citra Agro Lombok (CAL), namun nampaknya hingga kini tidak menunjukkan kemajuan, karena jumlah ternak yang dipotong tidak lebih dari lima ekor per hari, bahkan kadangkala tidak ada sama sekali, padahal kapasitas RPH mencapai 100 ekor perhari Perusahaan tambang tembaga dan emas itu, tidak berani memesan daging dari RPH Banyumulek, karena khawatir jadwal pengiriman sering tidak tepat.

Pada awal-awal keberadaannya, RPH Banyumulek berjalan cukup bagus bahkan sempat mendatangkan ternak sapi dari Australia untuk digemukkan kemudian dipotong di RPH, namun tidak lama kemudian RPH tersebut macet tanpa diketahui apa penyebabnya.

Dia berharap jika PT. CAL tidak lagi berminat mengelola RPH Banyumulek agar diserahkan kepada pihak lain, karena masih banyak pengusaha yang ingin menanamkan modalnya di RPH berstandar internasional tersebut, ada rencana akan dikelola oleh Pemerintah Propinsi NTB.

"Bahan baku ternak untuk memenuhi RPH Banyumulek tersedia cukup banyak di daerah ini, karena populasi sapi di NTB mencapai 350.000 ekor dan kerbau 250.000 ekor, sementara padang pengembalaan cukup luas khususnya di Pulau Sumbawa," katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas Peternakan NTB, Drh. Abdul Muthalib mengakui kondisi RPH Banyumulek cukup memprihatikan bahkan kini kondisinya sedang sekarat ibarat "hidup segan mati tak mau".

"Sudah ada sejumlah perusahaan yang ingin mengambilalih RPH bertaraf internasional tersebut, namun hingga kini masih belum cocok, sehingga keadaannya masih seperti sekarang," katanya.

RPH Banyumulek yang dibangun sekitar tahun 2000 sempat beroperasi sebentar, namun sejak dua tahun terakhir sama sekali tidak beroperasi sehingga proyek miliran rupiah itu terkesan mangkrak. Jika RPH tersebut tidak bisa beroperasi dalam dua bulan kedepan, maka pihak Dinas Peternakan NTB akan mengelola sendiri.

"Dalam rapat tersebut juga telah dibuatkan surat kesepakatan, bahwa Dinas Peternakan berhak mencabut secara sepihak jika RPH tidak jalan," katanya.

Dikatakannya, RPH Banyumulek yang bertaraf internasional tersebut dibangun dengan dana miliaran rupiah, dengan kapasitas potong 100 ekor sapi perhari. (*/rit)