Musharraf marah pada sekutunya ketika ia membatalkan perjalanan ke Kabul pada malam 'jirga perdamaian' yang diperantarai oleh AS, yang mengumpulkan ratusan utusan dalam usaha untuk memecahkan masalah terorisme di kawasan itu.
Perubahan itu menyusul panggilan telpon Jumat malam dari Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, yang kembali memintanya untuk menghadiri pertemuan anti-teror itu, yang akan berlangsung hingga Minggu.
"Presiden Karzai mengatakan bahwa partisipasi pribadi presiden (Musharraf) akan menjadi sumber dukungan dan dorrongan pada proses jirga," kata kementerian luar negeri Pakistan dalam satu pernyataan.
"Presiden telah setuju pada prinsipnya untuk berpidato pada sidang penutupan jirga perdamaian bersama itu."
Panggilan telpon Jumat malam itu menyusul dorongan sebelumnya dari Menlu AS Condoleezza Rice. Seorang jurubicara deplu AS membiarkan terbuka kemungkinan bahwa Musharraf akan menghadiri 'bagian terakhir' dari pertemuan itu.
Kementerian luar negeri Pakistan Rice telah menelpon Musharraf Kamis untuk membicarakan jirga dan juga laporan bahwa ia akan menerapkan keadaan darurat.
Musharraf Kamis telah memutuskan untuk tidak menerapkan keadaan darurat itu, mengabaikan nasehat dari para pembantunya yang menginginkan tindakan tegas untuk mencegah ketidakstabilan lagi di negara yang menemui kesulitan itu.
"Keputusan itu diambil karena prioritas presiden dan pemerintah sekarang ini adalah pemilihan yang bebas, jujur dan adil sesuai dengan persyaratan konstitusi," kata Menteri Informasi Mohammad Ali Durrani.
Pemimpin Pakistan itu pada awalnya akan menghadiri pembukaan jirga perdamaian itu Kamis, tapi mundur, dengan menyebutkan persoalan penting di Islamabad, yang para pengamat sekarang yakini punya hubungan dengan pembicaraan dengan beberapa pembantu pentingnya mengenai apakah akan menerapkan keadaan darurat, atau tidak.
Hubungan antara Karzai dan Musharraf tegang, karena bangkitnya kembali Taliban, yang diusir dari pemerintahan oleh koalisi pimpinan AS pada 2001 setelah dibantu berkuasa oleh Pakistan 1996.
Pakistan sekarang merupakan sekutu dalam 'perang atas teror' pimpinan AS, tapi para pejabat Afghanistan dan Barat menuduh negara itu tidak berbuat cukup untuk mengambil tindakan keras terhadap perlindungan Taliban dan al Qaida di daerah kesukuannya, tuduhan yang Islamabad bantah.
Helikopter tempur telah menggempur tempat persembunyian gerilyawan di Pakistan utara Kamis, yang menewaskan sedikitnya 10 pejuang al Qaida dan Taliban, kata militer.
Jurubicara militer Mayor Jenderal Waheed Arshad mengatakan pasukan keamanan memusatkan perhatian untuk menekan gerilyawan, yang memiliki pejuang setempat dan asing di antara jajaran mereka.
"Tidak ada operasi yang telah direncanakan akan berlangsung di Waziristan Utara tapi kami menanggapi dengan pasukan yang lebih besar terhadap serangan militan pada pasukan keamanan sekarang," kata Arshad.
"Dalam beberapa bulan sebelumnya ada beberapa upaya yang dilakukan oleh gerilyawan terhadap pasukan keamanan dan kami akan menunjukkan kesabaran tapi tidak demikian sekarang," pungkasnya. (*/bun)