Bantu Petani Rawa, Disperindag Sumbar Ciptakan 'Hydrotiller'
Kapanlagi.com - UPTD Balai Rekayasa Logam Mesin Kerajinan dan Bahan Bangunan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Sumbar, menciptakan mesin Hydrotiller untuk membajak sawah dalam atau rawa."Prototipe mesin bajak ini dibuat melalui pengkajian, perakitan dan ujicoba dua tahun serta telah bisa diproduksi dalam jumlah banyak untuk membantu petani tradisional sawah rawa," kata Nurzal ST, M.Si petugas stand Perindag Sumbar di arena pameran "Padang Fair 2007" kepada ANTARA di Padang, Sabtu (11/08). Satu unit mesin bajak Hydrotiller saat ini dipamerkan di "Padang Fair 2007" bersama sejumlah mesin ciptaan terbaru UPTD Balai Rekayasa Logam Mesin Kerajinan dan Bahan Bangunan pada Perindag Sumbar. Menurut dia, diciptakannya mesin bajak itu, setelah penelitian di lapangan menunjukkan pengoperasian tanah untuk siap tanam di sawah rawa merupakan pekerjaan memakan waktu dan biaya tinggi dan sering menyebabkan tertundanya masa tanam padi petani tradisional. Untuk sawah rawa penggunaan bajak tradisional sulit dilakukan karena mata bajak sering terbenam karena lunaknya tanah. "Untuk mengatasi hal itu diciptakan Hydrotiller yang khusus untuk membajak sawah rawa tapi juga bisa digunakan untuk sawah lahan biasa," katanya. Ia menjelaskan, Hydrotiller bentuknya seperti traktor tangan biasa dengan ukuran panjang 195 centimeter, lebar 100 centimeter dan tinggi 75 centimeter, tapi menggunakan motor lebih kecil yakni bisa mesin bensin berkekuatan 10 PK atau mesin solar 7,5 PK. Tenaga Hydrotiller ini dengan V-belt dari motor ke transmisi dan dengan rantai serta gigi jentera ke roda bajak. Jika menggunakan motor bensin dibutuhkan bahan bakar 1,5 liter per jam sedangkan motor solar hanya butuh satu liter bahan bakar per jam. Mesin ini mampu membajak sawah rawa seluas satu hektar per delapan jam pada bajakan pertama dan 1,8 hektar pada bajakan kedua, tambah Nurzal. Lebih lanjut, ia menjelaskan, keunggulan Hydrotiller antara lain dapat mengolah lahan lebih cepat dibandingkan bajak tradisional maupun traktor tangan roda dua. Kemudian, pengolahan tanah juga cepat karena kombinasi pelampung dan saluran airnya seimbang dan menghasilkan bajakan yang rata sehingga hanya membutuhkan 2 hingga 3 kali ulang bajakan, sedangnya dengan alat tradisional butuh 5 hingga 8 kali ulang bajakan. Hydrotiller juga serba guna karena dapat membajak sawah rawa dan sawah biasa sekaligus membenamkan rumput serta sisa-sisa batang padi, tambahnya. Untuk mengoperasikan mesin bajak ini tidak memerlukan keahlian khusus, apalagi beratnya hanya 40 kilogram. Biaya operasional juga lebih murah dari alat tradisional dan dapat mengatasi masalah keterlambatan dalam bertanam padi. Meski demikian, Narzul menegaskan, untuk mengoperasikan mesin itu, lahan yang akan dibajak harus diairi terlebih dahulu 3 hingga 5 hari dan saat dibajak tinggi air harus 5 centimeter di atas permukaan tanah. Ia menyebutkan, setelah prototipe Hydrotiller selesai, pihak UPTD Balai Rekayasa Logam Mesin Kerajinan dan Bahan Bangunan mensosialisasikannya ke kabupaten dan kota di Sumbar. Selanjutnya dari setiap kabupaten dan kota diminta mengirimkan satu orang tenaga mekanik perbengkelan untuk dididik dan dilatih di UPTD Balai Rekayasa Logam Mesin Kerajinan dan Bahan Bangunan tentang mesin bajak tersebut. Setelah pendidikan dan pelatihan, para mekanik itu dipersiapkan untuk merakit dan memproduksi Hydrotiller di daerah masing-masing. Kelanjutan produksi mesin bajak ini diserahkan kepada masing-masing kabupaten dan kota, karena pihak UPTD Balai Rekayasa Logam Mesin Kerajinan dan Bahan Bangunan hanya bertugas menciptakan alat lalu hasilnya diserahkan kepada pihak terkait untuk diproduksi di daerah masing-masing, tambahnya. (*/rit) |