48 Jam, 'Deadline' Perdamaian Bagi Pemberontak Yaman

Kapanlagi.com - Komite yang mengawasi perjanjian yang diperantarai oleh Qatar, yang ditujukan untuk mengakhiri pemberontakan Syiah di Yaman, Sabtu (11/8), merencanakan jadwal waktu pelaksanaan 20 hari dan memberi pemberontak 48 jam untuk menerimanya.

Komite itu, yang mengelompokkan partai politik yang diwakili di parlemen Yaman, setuju dalam pertemuan dengan penengah Qatar mengenai panel bahwa jadwal yang diusulkan adalah final, mengikat dan tidak terbuka bagi perubahan, kata kantor berita resmi Saba.

Pihak berwenang setempat di provinsi Saada di Yaman baratlaut, tempat pemberontakan oleh anggota masyarakat minoritas Zaidi yang menyebabkan ribuan orang tewas, dan pemimpin pemberontak Abdul Malik al-Huthi diberi 48 jam untuk mengumumkan mereka akan mematuhi jadwal waktu itu, kata Saba.

Jadwal itu menetapkan penarikan bertahap gerilyawan dari berbagai lokasi tempat pertempuran berlangsung dan penggantian mereka oleh tentara reguler.

Proses itu akan disertai dengan pembebasan berangsur-angsur gerilyawan yang ditahan oleh pihak berwenang dan berpuncak pada keberangkatan pemimpin pemberontakan ke pengasingan di Qatar.

Komandan pemberontak yang akan pergi ke Qatar pada akhir proses 20 hari itu disebut-sebut sebagai Abdul Malak al-Huthi, saudara laki-lakinya Abdul Karim al-Huthi dan Abdullah al-Razami.

Komite itu bulan lalu menuduh pemberontak melanggar perjanjian yang diperantarai oleh Qatar Juni, dan negara Arab Teluk itu kemudian menarik penengahnya dari komite tersebut, dilaporkan karena pertengkaran di antara pemimpin pemberontak.

Menurut perjanjian itu, pemberontak setuju untuk meletakkan senjata mereka, mengakhiri bertahun-tahun pertempuran sengit yang telah menewaskan ribuah orang di salah satu negara termiskin di dunia itu.

Huthi dan pemimpin gerilyawan lainnya akan mengasingkan diri ke Qatar, tempat mereka akan dilarang terlibat dalam kegiatan politik atau media yang menentang Yaman.

Mereka juga akan dilarang meninggalkan keemiran itu tanpa izin dari pemerintah Yaman, menurut catatan resmi perjanjian tersebut.

Pemberontak akan menyerahkan senjata mereka pada pemerintah yang akan menguasai daerah Saada yang resah dan, dengan bantuan keuangan dari Qatar yang kaya-gas, akan membangun kembali daerah yang dilanda berkali-kali pertempuran itu.

Pemerintah juga akan membebaskan gerilyawan yang ditahan yang belum dituduh atau diadili.

Pemberontak itu ditunjuk sebagai 'Huthi' karena komandan mereka yang tewas adalah Hussein Badr al-Huthi, saudara laki-laki Abdul Malak, yang ditewaskan oleh tentara September 2004.

Mereka berperang dengan tujuan memulihkan keimamahan (kerajaan Syiah) Zaidi, yang digulingkan melalui kudeta republik 1962. Salah satu cabang Islam Syiah, Zaidi merupakan minoritas di Yaman yang sebagian besar penduduknya Sunni tapi membentuk mayoritas di Yaman baratlaut. (*/bun)

©2003-2007 KapanLagi.com