"Saya mau meingatkan terus, bahwa pada dasarnya dalam pandangan politik dan intelijen, tidak ada negara sahabat. Yang ada hanyalah kepentingan bangsa dan negara kita," katanya sehubungan masih belum tuntasnya kasus Defence Cooperation Agreement (DCA, Perjanjian Kerjasama Pertahanan) RI-Singapura yang dianggapnya kontroversial itu.
Tjahjo Kumolo dan fraksinya berpendapat, meskipun negara tetangga, serumpun atau pun bahkan seumat, belum tentu mereka itu tulus ikhlas dalam membina persahabatan.
"Artinya, dalam prinsip-prinsip universal, setiap negara lain, adalah calon lawan kita. Derajatnya saja yang menentukan urutannya," tandasnya lagi.
Dari berbagai literatur dan berdasarkan kajian-kajian pihaknya, Tjahjo Kumolo lanjut mengatakan, perjanjian antar dua negara sebetulnya merupakan the first real war.
"Siapa yang kuat, akan menekan yang lemah. Dan khusus mengenai DCA, mestinya kerjasama pertahanan harus didasarkan kepada musuh bersama. Apa musuh kita sama dengan dia (Singapura)," katanya sembari menunjuk beberapa perbedaan prinsip kedua negara, terutama di bidang budaya, ekonomi, juga ideologi serta politik.
Satu hal lagi yang perlu diingatkan terus, menurut Tjahjo Kumolo, tentang ketulus-ikhlasan negara semacam Singapura dalam melakukan kerjasama.
"Saya mau katakan, jangan pernah berpikir bahwa negara lain memberikan semua ilmunya kepada kita. Jangan pernah berpikir bahwa mereka menganggap kita bersahabat dan mereka tidak ingin menaklukkan kita, apakah di bidang militer, politik, kebudayaan dan ekonomi," tegasnya.
Khusus dengan Singapura itu, katanya, misalnya mereka ingin `memiliki` Batam (secara ekonomi dan budaya), Indonesia setuju saja, asal Pulau Singapura diserahkan ke Indonesia.
"Maknanya sangat dalam. Yaitu, bahwa kedaultan tidak dapat ditukar dengan apa pun, kecuali kalah perang," ujarnya dengan menambahkan sikap baik terhadap semua negara dengan menjalin rasa saling mengerti dan menghormati tetap harus dipupuk.
Waspadai Upaya Amerika
Tjahjo Kumolo juga mengajak semua pihak untuk mewaspadai upaya Amerika Serikat melalui para kaki tangannya di sekitar Asia Tenggara.
"Geo strategi dan geo politik Amerika Serikat itu bekerjasa maksimal di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Sebentar lagi kita akan melihat Indonesia morat-marit jika tidak waspada," tukasnya.
Selama kita tidak bersatu dalam NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 (yang sebelum diamandemen), menurut Tjahjo Kumolo, bangsa Indonesia tidak akan mampu melepaskan diri dari penjajahan liberalisme, kapitalisme dan neo kolonialisme.
"Inilah hal-hal mendesak yang patut menjadi perhatian semua pihak. Dan karenanya, dimulai dengan adanya silaturahmi kebangsaan dengan dipelopori partai-partai besar berwawasan nasional, akan kami galang terus upaya memperkukuh NKRI, mengargai kemajemukan serta pluralitas bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," kata Tjahjo Kumolo. (*/cax)