"Penurunan ekspor kopi itu disebabkan keterlambatan musim panen dan jatuhnya produksi kopi pada musim panen tahun 2006 lalu," kata Ketua Kompartemen Relitbang BPD Asosiasi Ekposrtir Kopi (AEKI) Lampung, Muchtar Lutfie, di Bandar Lampung, Selasa.
Dia menyebutkan turunnya ekspor kopi itu sebelumnya telah diprediksi akibat rendahnya produksi kopi pada musim panen tahun 2006 lalu.
Menurut dia, musim panen kopi biasanya terjadi pada Mei, tetapi pada tahun 2007 ini panen akan mulai pada akhir bulan Juli.
Ia menambahkan petani kopi kini tidak menahan stok karena saat ini harga kopi cukup tinggi.
Lutfie menyebutkan harga kopi Robusta di Bursa London, Inggris mencapai US$35 per kilogram atau Rp16.500 per kilogram.
Sementara menurut dia, harga kopi asalan di Lampung mencapai Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram.
Provinsi Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu produsen utama kopi Indonesia dan `pintu gerbang` utama ekspor kopi Indonesia.
Areal kopi robusta di Lampung seluas 135.477 ha, dan petani yang terlibat dalam budidaya kopi sebanyak 126.429 kepala keluarga (Tondok 1999).
Luas areal kopi di segitiga emas kopi Indonesia (Lampung, Sumsel, dan Bengkulu) seluas 463.000 ha dengan produksi 218 ton. Dengan demikian produktvitas rata-rata kopi di wilayah ini masih rendah, yaitu sekitar 0.5 ton per hektare. (*/rsd)