< >

Pemerintah Toleransi Kenaikan Harga Sembako Hingga 15%

Kamis, 23 Agustus 2007 07:27
Kapanlagi.com - Pemerintah memberikan toleransi kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) antara 10-15% menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN).

Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Kaman Nainggolan, di Jakarta, Rabu mengatakan, kenaikan tersebut masih dianggap normal menyusul meningkatnya permintaan.

"Menurut saya kenaikan harga 10 hingga 15% masih wajar. Anggap saja itu gaji ke-13 petani," katanya.

Meski mengakui kemungkinan terjadinya kenaikan harga sembako, Kaman menegaskan bahwa pasokan kebutuhan pokok masih cukup aman.

Untuk beras, tambahnya, berdasarkan angka ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS) produksinya cukup baik, yaitu 58,13 juta ton gabah kering giling (GKG).

Secara kumulatif masih ada stok sekitar 2,38 juta ton beras, jumlah tersebut belum termasuk stok yang ada di masyarakat dan pedagang.

"Jika dibandingkan antara kebutuhan dengan produksi pada Oktober nanti memang defisit. Tapi masyarakat tidak perlu khawatir karena ada carry over dari produksi beras bulan-bulan sebelumnya," kata Kaman.

Kebutuhan kumulatif gula pasir saat menjelang hari besar keagamaan diperkirakan mencapai 2,8 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya mencapai 449 ribu ton.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, pemerintah telah melakukan impor sebesar 3,7 juta ton, harganya pun naik mencapai kisaran Rp10.000.

Menurut Kaman, ketersediaan minyak goreng saat ini relatif aman, namun akan ada kenaikan harga akibat dari kenaikan harga CPO dunia.

Harga CPO Internasional di pasar Rotterdam Belanda mencapai USD 825/ton, kenaikan harga CPO dunia disebabkan oleh tingginya permintaan CPO untuk kebutuhan bahan bakar biodiesel.

Negara yang paling tinggi permintaan CPO adalah Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Republik Rakyat Cina (RRC).

Kenaikan harga minyak goreng tersebut, tambahnya, nantinya akan memukul usaha kecil dan menengah (UKM) seperti pedagang gorengan pinggir jalan, serta warung makan kecil.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah melalui Deptan dan Bulog berencana akan mengajak pengusaha produsen minyak goreng dan pemerintah daerah untuk melakukan operasi pasar (OP).

Ketersediaan pangan pokok lainnya seperti cabe merah akan dipenuhi dari produksi dalam negeri, dan harganya relatif aman sekitar Rp9.000/kg.

Sementara kebutuhan kacang tanah produksi dalam negeri masih kurang, untuk memenuhi hal tersebut pemerintah berencana mengimpor sebesar 100.000 ton sebagai persediaan.

Ketersediaan bawang merah cukup aman bahkan berlebih (surplus) kebutuhan itu dipenuhi dari produksi dalam negeri, harganya juga masih relatif normal sekitar Rp9.000/kg.

Kaman mengatakan, ketersediaan daging ayam, menurut data, sampai 4 Agustus 2007 mengalami defisit sebesar 14 ribu ton, karena ketersediaan hanya sekitar 5,794 ton.

"Guna menutupi kekurangan tersebut pemerintah akan menggenjot produksi ayam buras," katanya.

Harga daging ayam sekitar Rp12.600/kg diperkirakan cenderung naik kisaran Rp16.400/kg.

Sedangkan ketersediaan daging sapi aman, kebutuhannya dipenuhi dari impor, ketersediaan sekitar 377,46 ribu ton sementara kebutuhan konsumsi 372 ribu ton sehingga masih sisa sebesar 5,46 ribu ton.

Harga daging sapi rata rata mencapai Rp 46.500/kg, harga maksimal sebesar Rp 48.700/kg

Ketersediaan telor ayam sebesar 98,255 ribu ton dipenuhi dari produksi dalam negeri, sedangkan harga telor cenderung naik dengan harga mencapai Rp9.000-Rp9.750/kg atau rata rata Rp8.600/kg.

Menurut dia, kenaikan harga daging ayam, daging sapi dan telur ayam disebabkan akibat dari naiknya harga pakan ternak di dunia.

"Bahan baku pakan ternak seperti jagung di Amerika Serikat pasokannya dikurangi sebesar 30% untuk kebutuhan bahan baku biodiesel," katanya. (*/rsd)