< >

Kembangkan Kompos, Deptan Anggarkan Rp7,5 M

Jum'at, 24 Agustus 2007 16:22
Kapanlagi.com - Departemen Pertanian (Deptan) mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,5 miliar untuk mengembangkan pengolahan pupuk kompos pada 2007.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Jumat menyatakan, dana sebesar itu akan dimanfaatkan untuk membangun beberapa unit rumah pengolahan kompos.

"Nantinya rumah-rumah kompos ini akan dihibahkan kepada petani baik di pedesaan maupun perkotaan dalam bentuk bantuan langsung," katanya di sela peresmian Rumah Kompos di kawasan Deptan.

Dikatakannya, anggaran untuk pengembangan unit-unit pengolahan kompos tersebut diharapkan bisa ditingkatkan pada tahun depan.

Menurut dia, dengan pengembangan unit-unit pengolahan kompos tersebut maka bisa memberikan manfaat tambahan terhadap sampah-sampah yang selama ini hanya dibuang.

Anton mengatakan, sistem pertanian ke depan akan mengarah pada pertanian organik yang lebih memperhatikan keamanan pangan dan lingkungan.

Kondisi tersebut, tambahnya, menuntut peningkatan penggunaan kompos atau pupuk organik untuk menggantikan pupuk kimia yang dinilai tidak ramah lingkungan dan keamanan pangan.

Menyinggung Rumah Kompos yang dibangun di lingkungan Deptan, Mentan mengatakan, unit pengolah kompos tersebut diharapkan menjadi percontohan di instansi pemerintah lainnya.

Sementara itu Direktur Pengolahan Lahan Ditjen Pengolahan Lahan dan Air Deptan, Suhartanto mengatakan, biaya pembangunan rumah kompos mencapai Rp100 juta per unit.

Biaya tersebut, tambahnya, terdiri Rp70 juta untuk bangunan dan Rp30 juta bagi pengadaan mesin pengolah kompos.

Sementara itu untuk sarana pendukung lain seperti alat pengangkut sampah ataupun produk kompos yang sudah jadi seharga Rp12-14 juta per unit.

Suhartanto mengatakan, saat ini pihaknya mengusulkan untuk pengembangan rumah kompos di delapan lokasi diantaranya Tasikmalaya Jabar, Ngawi dan Tulungagung Jatim, Sragen Jateng, serta Banten.

Menurut dia, kapasitas olah rumah kompos tersebut mencapai satu ton per jam, namun demikian karena masih kekurangan pasokan bahan baku maka pengolahannya baru sebanyak 200 kg/jam. (*/rit)