< >

Pangdam IM: Ulama Pegang Peranan Strategis di Aceh

Selasa, 04 September 2007 18:07
Kapanlagi.com - Panglima Komando daerah militer Iskandar Muda (Kodam-IM) Mayjen TNI Supiadin AS menilai ulama memegang peranan sangat strategis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam upaya membangun moral masyarakat.

"Mereka (ulama-red) bukan sekedar melarang yang haram akan tetapi selalu dibutuhkan masyarakat, termasuk dalam kesusahan," katanya kepada pers seusai mengadakan pertemuan silaturahmi dengan tokoh Agama se NAD di Makodam IM, Banda Aceh, Selasa (04/09).

Pertemuan tersebut dilakukan dalam upaya membuka wawasan para ulama tentang perjanjian damai (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

"Saya melihat, peranan ulama di Aceh telah cukup teruji dan mereka telah berbuat banyak untuk daerah ini, termasuk pada masa konflik," tambahnya.

Ulama harus selalu tampil menjadi air penyejuk bagi umatnya (masyarakat) yang sedang dalam kepanasan (kehausan) dengan memberikan petuah bagi mereka yang sedang kehilangan arah hidup agar segera kembali ke jalan yang benar.

"Tugas ulama adalah membangun jiwa masyarakat, sedangkan umara membangun raganya," katanya.

Menurut jenderal berbintang dua itu, yang paling fundamental sekarang adalah membangun moral masyarakat, termasuk semangat dan wawasan kebangsaan yang akhir-akhir ini mulai memudar akibat kuatnya pengaruh budaya asing negatif.

Terkait dengan reintegrasi sebagai amanat dari MoU Helsinki, ia menilai belum maksimal karena pemahaman masyarakat yang berbeda akibat kurang gencarnya sosialisasi, sementara situasi keamanan kini mulai dinikmati masyarakat di Nanggroe Aceh.

"Suasana aman dan damai itu kini mulai dinikmati masyarakat, setelah dua tahun lahirnya MoU Helsinki," katanya.

Dalam suasana damai ini, ia mengharapkan kepada pemerintah Aceh untuk membina anak yatim/piatu korban konflik secara baik agar mereka tidak dibina pihak lain karena khawatir mereka diisi dengan pemahaman yang salah tentang konflik masa lalu.

"Kalau pembinaan salah, anak-anak korban konflik tersebut dikhawatirkan mereka akan menjadi generasi pendendam," katanya.

Pembinaan harus dilakukan secara baik agar mereka memperoleh kesempatan pendidikan yang cukup, sehingga memahami konflik Aceh masa lalu sebagai sebuah sejarah, sehingga nantinya mereka tetap tumbuh menjadi generasi berpikiran jernih untuk meraih masa depan lebih baik. (*/lpk)