"Lima titik pantau dipusatkan di Tanjung Bunga JTC, Makassar; Bukit Cindripuro, Gresik (Jatim); Masjid Agung Semarang (Jateng); Observatorium Boscha, Lembang (Bandung); dan Pantai Lok Ngah (NAD)," katanya dalam rilis Depkominfo, Senin.
Menurutnya, hilal selama ini dilihat dengan mata telanjang atau alat bantu teropong, kemudian hasilnya diproses dengan mekanisme sumpah untuk akhirnya dipublikasikan kepada masyarakat, namun hasilnya kerap kali terjadi perdebatan.
"Dengan TIK, apa yang selama ini dilihat secara perseorangan bisa dipancar luaskan atau dilihat secara bersama-sama melalui alat bantu teropong digital yang ditransfer melalui web dan dipancar luaskan melalui televisi," katanya.
Selain itu, katanya, hasil pengamatan atau detik-detik munculnya hilal juga bisa diamati dari detik ke detik, sekaligus dapat direkam, sehingga melihat hilal bukan lagi sesuatu yang eksklusif.
Namun, katanya, Depkominfo tidak berada dalam kapasitas memutuskan awal atau akhir Ramadhan, tapi hanya supporting (membantu) untuk bisa melihat hilal dengan bantuan TIK, sebab keputusan tetap ada di Departemen Agama.
"Dalam uji coba melihat hilal pada awal Sya`ban 1428 H, Observatorium Boscha ITB telah berhasil mendeteksi munculnya bulan, meski keadaan saat itu relatif tertutup awan," ujarnya.
Sistem pantauan dari hasil uji coba itu, katanya, akan digunakan saat melihat hilal pada 11 dan 12 September 2007 untuk menentukan awal bulan puasa Ramadhan 1428 H.
"Bagi Depkominfo, latar belakang untuk membantu Depag dalam melihat hilal dengan TIK lebih karena selama ini telah terjadi ketidak kompakkan kaum muslimin dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Dengan TIK, semuanya dapat disaksikan melalui televisi dan internet," ujarnya.
Selain itu, katanya, kemampuan TIK yang memang menjadi tugas pokok dan fungsi Depkominfo adalah sesuatu yang memang harus diimplementasikan dan bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat secara lebih luas.
"Dengan TIK itu diharapkan tidak ada lagi perdebatan atau perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal, juga Idul Adha, karena bisa disaksikan siapa saja melalui televisi dan jaringan internet, sehingga hasil yang ilmiah dapat mengurangi perbedaan dan gontok-gontokan," katanya.
Ia mengatakan upaya melihat hilal dengan bantuan TIK bukan untuk mendemonstrasikan kecanggihan teknologi dan keilmuan, tapi lebih pada bagaimana bisa memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan masyarakat. (*/cax)