"Tim independen tersebut beranggotakan ahli kimia yang terdiri dari tujuh hingga delapan orang agar dapat diketahui secara pasti penyebab kejadian," kata Kepala Batan Hudi Hastowo kepada wartawan di Serpong, Selasa pagi.
Menurut dia, tim tersebut akan bekerja hingga tanggal 24 September 2007 mendatang dan melaporkan tentang hasil penelitian serta penyebab kejadian.
Hastowo menyebutkan, dari laporan pihak Tim Gegana Polda Metro Jaya yang menyisir lokasi kejadian tidak ditemukan adanya unsur explosif, tapi hanya karena tekanan gas tinggi.
Sementara itu, pihak petugas dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polda Metro Jaya sejak pagi hari terus melakukan penyisiran di lokasi kejadian.
Dalam keterangan itu hadir pula Bupati Tangerang, H. Ismet Iskandar, namun dia tidak bersedia memberikan komentar seputar terjadinya ledakan.
Bahkan Hastowo tidak menyebutkan nama tim tersebut karena pada prinsipnya mereka yang masuk dalam jajaran tersebut merupakan para ahli kimia.
Tim itu juga akan meminta keterangan dari saksi korban yang saat ini masih dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, bila mereka sudah dinyatakan sembuh oleh tenaga medis.
Sedangkan empat korban ledakan tersebut masing-masing Prof. Munawir Zulkarnain, Dr. Puji Untoro, dan Ir. Agus Sujipno dan Sanda SSi, dirawat di RS Fatmawati, Jakarta Selatan dan ada pula yang sudah pulang ke rumah masing-masing.
Pernyataan Hastowo tersebut serupa dengan Menristek Kusmayanto Kadiman bahwa peristiwa tersebut terjadi berkaitan dengan uji coba alat baru penelitian biofuel, namun tak ada hubungannya dengan nuklir.
Dia menjelaskan ledakan itu terjadi di luar batas kuning reaktor, sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan ada pengaruh radiasi nuklir dan semacamnya terhadap masyarakat.
Ledakan itu jaraknya 337 meter dari gedung reaktor (gedung 30) di kawasan Puspitek Serpong dan dinyatakan aman dari radiasi radioaktif, demikian Hudi Hastowo. (*/cax)