"Mereka tersebar di Sulsel dan Sulawesi Barat (Sulbar), " kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Sulsel Idris Manggabarani di Makassar, Selasa.
Menurut dia, pesatnya pertumbuhan pengembang di daerah ini, menyusul mulai membaiknya sektor ekonomi pasca krisis 2007 lalu, sehingga kondisi tersebut membuka peluang pembangunan di bidang fisik.
"Tidak heran jika pada tahun 2004 lalu masih sekitar 60 pengembang, namun pada 2007 sudah mencapai sekitar 180 pengembang," katanya.
Selain faktor ekonomi yang sudah mulai membaik,sehingga terjadi laju pertumbuhan pengembang yang cukup tinggi itu, terjadinya sinergitas antara pengembang dan dunia perbankan, sehingga akses pengembang untuk mendapatkan kredit konstruksi maupun bagi user (pembeli) yang ingin memanfaatkan jasa kredit bank perkreditan rakyat (BPR) pun sudah mulai terakomodasi.
"Belakangan ini, para user tidak perlu lagi berhubungan dengan pengembang, melainkan cukup mencari bank yang memberikan kredit BPR untuk mendapatkan rumah sesuai dengan yang diinginkannya," katanya sembari menambahkan, pihak perbankan pun memberikan bunga cicilan yang cukup terjangkau bagi user.
Sementara dengan banyaknya jumlah pengembang di Sulsel, lanjut Idris, sedikitnya 104 industri penunjang pun berkembang dan bertumbuh untuk memenuhi kebutuhan para pengembang, misalnya pengusaha pasir, semen, batu-bata, genteng dan sebagainya.
Khusus mengenai realisasi pembangunan rumah dari berbagai tipe yang dibangun para pengembang di Sulsel, ia mengatakan, pada tahun 2007 hingga posisi Agustus sudah mencapai 7.000 unit rumah yang terdiri dari lebih 4.500 unit rumah sangat sederhana (RSS), 2.000 unit residensial, dan 1.000 rumah komersial.
"Realisasi pembangunan rumah siap huni itu, sudah di atas 50% dari target 13 ribu unit rumah yang akan dibangun sepanjang tahun 2007," kuncinya. (*/rsd)