< >

Teh Spesial Potensial Dikembangkan di Indonesia

Selasa, 11 September 2007 23:14
Kapanlagi.com - Asosiasi Teh Indonesia (ATI) menyatakan, potensi pengembangan teh spesial masih tinggi di Indonesia mengingat saat ini produksinya baru 20 % dari total produksi teh nasional.

Ketua ATI, Insyaf Malik disela Temu Koordinasi Kehumasan Departemen Pertanian di Bogor, Selasa mengatakan, produsen teh nasional selama ini lebih banyak berkonsentrasi pada produksi teh biasa seperti teh hitam dan teh hijau.

"Bahkan dari total produksi teh Indonesia, produksi teh biasa hampir mencapai 80-90 %," katanya.

Menurut dia, meskipun pasar teh spesial tidak terlalu besar namun konsumen rela mengeluarkan biaya berapapun untuk jenis teh khusus tersebut malahan kebutuhan konsumsi jenis teh tersebut di dunia meningkat 6-7 % per tahun.

Dikatakannya, kecenderungan meningkatnya konsumsi teh spesial di pasar luar negeri terungkap setelah pertemuan International Tea Conference di Srilangka beberapa waktu lalu.

Srilangka, tambahnya, kini telah memproduksi teh spesial untuk mengisi permintaan pasar dunia yang masih sangat besar.

Negara konsumen sebagian besar berasal dari Rusia, negara di Timur Tengah, dan Jepang namun tidak disebutkan berapa jumlah kebutuhan dunia untuk komoditas teh spesial.

Data ATI menunjukan, produksi teh nasional pada tahun 2006 mencapai 167.881 ton meningkat dibandingkan tahun 2005 sebanyak 166.091 ton.

Dari jumlah tersebut, produsen teh nasional mengekspor teh sebanyak 95.339 ton pada tahun 2006 atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebanyak 102.000 ton.

Selama ini, lanjut Insyaf Malik, pemerintah dan produsen teh selalu menyatakan bahwa produksi teh nasional sudah melebihi kebutuhan nasional (oversuplly).

Padahal, kondisi tersebut hanya terjadi untuk komoditas teh biasa sedangkan pada komoditas teh spesial tidak seperti itu.

"Oleh karena itu produsen teh di Indonesia sebaiknya mulai mengalihkan produksi dari teh biasa ke teh spesial," katanya.

Menurut dia, untuk mengalihkan produksi teh biasa ke teh spesial tidak diperlukan pengubahan teknologi pengolahan yang selama ini telah diterapkan di pabrik-pabrik teh.

"Kalaupun terdapat pengubahan, hal itu terjadi hanya untuk bagian-bagian tertentu dari sejumlah mesin seperti teknik penggulungan. Teh khusus ini tidak menggunakan mesin penghancur melainkan mesin penggulung saja," katanya.

Rencananya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII akan mengalihkan produksi teh biasa menjadi teh khusus untuk satu pabrik dari 32 pabrik pengolahan teh yang dimiliki.

Diperkirakan, pengalihan produksi tersebut akan menelan biaya sebesar Rp5 miliar dengan kapasitas produksi sekitar 30 ton per tahun.

"Rencana tersebut akan disampaikan kepada Dirut PTPN VIII. Jika ada persetujuan diperkirakan pabrik itu bisa mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2008," kata Insyaf.

Sementara itu Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Ditjen Perkebunan Deptan, Rizki Muis mengatakan, produsen teh nasional dipastikan akan menghadapi berbagai tantangan pada tahun-tahun mendatang diantaranya perlunya kesadaran terhadap masalah lingkungan hidup.

Sejumlah konsumen negara-negara maju tidak hanya menetapkan persyaratan mutu dan batas penggunaan residu pestisida namun juga masalah lingkungan hidup.

Tantangan lainnya, tambahnya, adalah meningkatnya kesadaran akan kesehatan menyebabkan batas ambang toleransi terhadap kandungan senyawa yang mengganggu kesehatan semakin diperketat, serta masih adanya sejumlah hambatan nontarif dalam perdagangan dunia.

Sementera di sisi produksi, menurut dia, produktivitas tanaman teh masih belum optimal yaitu sebesar 60 % dari potensi produksi karena diversifikasi produk belum berkembang.

Kemampuan petani dalam mengakses pasar, teknologi, dan sumber permodalan masih sulit, sistem tata niaga yang belum menguntungkan petani, serta meningkatnya globalisasi perdagangan yang menuntut produk teh yang aman dan ramah lingkungan. (*/rsd)