Kepala Dinas Perhubungan NTT, Drs Simon Uly, mengemukakan hal itu, di Kupang, Rabu, berdasarkan laporan Kepala Sub Bagian Protokoler dan Perjalanan Biro Umum Setda NTT, Bernadus SA, S.Sos.
"Menurut rencana, besok siang, delegasi dari Australia itu akan bertemu Gubernur NTT, guna menyampaikan kegiatan penjajakan kemungkinan pengembangan `pilot project` transportasi penyeberangan (Ferry) Jurusan Kupang-Rote itu," ujar Uly.
Delegasi Australia yang akan menemui Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, SH itu, antara lain, Sekretaris I Departemen Perhubungan Australia, David Ramsay dan Tim Otoritas Pengamanan Laut Australia yang dikoordinir Graham Pechey.
Uly mengatakan, dari aspek pembangunan terutama di bidang perhubungan, niat baik Australia untuk mengembangkan transportasi penyeberangan di wilayah NTT itu patut disambut baik.
"Kalau Australia ingin mengembangkan transportasi penyeberangan di daerah ini dan itu berarti pelayanan jasa perhubungan laut kepada masyarakat makin baik, mengapa tidak. Saya kira kita `positif thingking` saja dalam mencermati keinginan Australia itu," ujarnya.
Jika memungkinkan, tambah Uly, pengembangan transportasi penyeberangan itu tidak hanya terfokus pada jurusan Kupang-Rote.
Menurut dia, angkutan penyeberangan Kupang-Rote hingga saat ini masih dikelola PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) yang mengoperasionalkan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) secara rutin setiap hari.
Selain itu, angkutan penyeberangan Kupang-Rote juga dilayani dengan kapal cepat Bahari Expres secara rutin setiap hari.
"Semula ada dua kapal ferry yang menempuh rute Kupang-Rote, yang satu berangkat ke Rote, satunya lagi kembali ke Kupang. Sekarang hanya satu kapal saja karena KMP Citra Mandala Bahari (JM Ferry) sudah tenggelam di Selat Pukuafu, antara Pulau Timor, Semau dan Rote, 31 Januari lalu," ujar Uly.
Secara administrasi, Pulau Rote berada dalam wilayah Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT, yang letaknya paling selatan Indonesia, atau berdekatan dengan Australia. (kpl/rit)