< >

Presiden Paparkan Delapan Prioritas Pembangunan 10 Tahun Mendatang

Rabu, 12 September 2007 21:32
Kapanlagi.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan delapan hal utama yang harus dicapai oleh bangsa Indonesia dalam 10 tahun ke depan.

"Pertama adalah pengurangan kemiskinan," kata Presiden Yudhoyono dalam orasi ilmiahnya yang bertema "Membangun Daya Saing Bangsa Menjadi Negara Maju" dalam Dies Natalis ke-50 Universitas Padjajaran, Bandung, Rabu (12/09).

Kedua, lanjutnya, adalah penciptaan lapangan kerja untuk menampung tenaga kerja yang melimpah dan salah satu cara mengurangi kemiskinan.

Ketiga adalah pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada pilar pertanian, industri dan jasa, ujarnya.

Kemudian selanjutnya adalah ketahanan pangan, ketahanan energi, pemerintahan yang baik, lingkungan dalam negeri yang aman dan peran pemerintah daerah.

Dengan ada desentralisasi diharapkan pemerintah daerah makin di depan dan mengajak perguruan tinggi untuk membangun daerah, katanya.

Untuk mewujudkan hal itu, lanjutnya, terdapat lima paradigma yaitu pembangunan terpadu nasional, paduan dari pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan penelitian, pertumbuhan bersama pemerataan, mengedepankan ketahanan dan kemandirian bangsa serta keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Kepala Negara juga berpesan agar bangsa Indonesia jangan pesimistis menghadapi masa depan bangsa sebab tidak ada suatu jalan pintas untuk membawa Indonesia pada kemakmuran, sebagai negara maju.

Menurut Presiden Yudhoyono upaya tersebut memerlukan proses yang harus dilewati sehingga bangsa Indonesia harus terus membangun.

Kepala Negara juga menyinggung masalah mengenai prediksi sejumlah pakar internasional yang menyebutkan bahwa Indonesia akan menjadi satu di antara 10 negara maju di dunia pada 2025.

Kepala Negara juga menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen melaksanakan perekonomian yang berkeadilan sosial guna mencapai kemakmuran.

Pada kesempatan yang sama Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan kunjungan Kepala Negara ke sejumlah universitas di Indonesia --Universitas Indonesia, Universitas Airlangga dan Universitas Padjajaran-- merupakan salah satu hal yang dapat memotivasi kampus menjadi universitas kelas dunia.

"Saat ini perguruan tinggi di Indonesia juga tengah berbenah menjadi universitas kelas dunia, terutama dalam tata panggung dan kelola yang selaras dengan format badan hukum pendidikan," ujarnya.

Disebutkan bahwa saat ini payung hukum untuk badan hukum pendidikan tengah dibahas di DPR.

Badan hukum pendidikan, lanjutnya, bertujuan untuk memberikan otonomi yang memiliki akuntabilitas.

Mendiknas menyebutkan otonomi adalah syarat kreativitas. Sementara itu, Rektor Universitas Padjajaran Ganjar Kurnia mengatakan universitas haruslah menjadi pusat kebudayaan yang dijadikan acuan dan memberi arah di dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, peradaban dan kehidupan kemasyarakatan.

Menurut dia, seiring dengan tantangan dan persaingan di tingkat perguruan tinggi Unpad terus berbenah diri terutama dalam kaitannya dengan rencana perubahan bentuk kelembagaan tinggi di masa mendatang.

"Untuk itu, kami tengah menyusun road map dengan sasaran pada 2022-2026 Unpad dapat menjadi universitas kelas dunia," katanya.

Unpad, katanya, telah pula memberikan gelar honoris causa kepada beberapa tokoh luar negeri, di antaranya Presiden Republik Yugoslavia Josif Broz Tito (1958), SWAPO Afrika Selatan Mburumba Kerina (1962), dan PM Malaysia Mahathir Mohammad (2004). (*/lpk)