< >

Telkom Bentuk Anak Perusahaan Dengan PT Inti Tahun Depan

Kamis, 13 September 2007 15:58
Kapanlagi.com - Direktur Utama PT Telkom Tbk, Rinaldy Firmansyah mengisyarakatkan akan membentuk perusahaan baru dengan PT Inti (Persero) sebagai upaya membangun sinergi antar dua BUMN, yang ditargetkan terealisasi pada 2008.

"Telkom tidak akan mengakuisisi Inti, namun tahap awal kerjasama dilakukan dengan membentuk "small business unit/SBU" dalam bentuk "joint operation", kata Rinaldy, di Jakarta, Kamis.

Dalam rangka menggalang kemitraan antar BUMN, pemerintah mendorong PT Telkom mengakuisisi PT Inti. Selain sama-sama bergerak di bidang telekomunikasi, Inti juga dinilai memiliki kinerja kurang memuaskan dan tidak memiliki dana khusus untuk mengembangkan bisnis perusahaan.

Menurut Rinaldy, anak perusahaan itu nantinya bertugas mengelola atau memelihara perangkat telekomunikasi, seperti jaringan, perangkat menara radio pemancar (BTS), perangkat transmisi dan perangkat infrastruktur lainnya.

"Pembentukan anak perusahaan ini diharapkan sejalan dengan salah unit yang dimiliki Telkom saat ini yaitu "maintenance service unit," kata Rinaldy.

Meski begitu, ia tidak bersedia merinci berapa besar efisiensi biaya dalam kerjasama bisnis tersebut.

Sebelumnya Deputi Menneg BUMN Bidang Pertambangan Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi, Roes Aryawijaya mengatakan, kajian atas rencana akuisisi itu telah dilakukan baik dari aspek komersial, hukum, maupun perpajakan.

PT Inti berdiri pada 1974 dengan kepemilikan 100 persen saham pemerintah. Perusahaan ini memiliki fasilitas produksi seperti pabrik perakitan telepon, pabrik perakitan transmisi, laboratorium piranti lunak komunikasi data, dan konstruksi serta mekanik.

Menurut Rinaldy, PT Inti tetap berjalan seperti biasa, namun yang sedang dalam tahap proses penyelesaian adalah bagaimana melakukan sinergi tersebut lebih efektif dan efisien.

Pada 2006, Inti mencatat penjualan Rp629,5 miliar dengan laba bersih Rp8,6 miliar dan ekuitas Rp488 miliar.

Kementerian BUMN mengkategorikan Inti sebagai BUMN yang kurang berkembang, dan bahkan memasukkan Inti dalam sebuah "strategic holding" bersama BUMN strategis lainnya, seperti PT Krakatau Steel, PT Barata Indonesia, PT LEN Industri, PT Industri Kereta Api, dan PT PAL Indonesia.

Pengamat telekomunikasi Gunawan Wibisono mengatakan, ia mendukung rencana Telkom bermitra dengan Inti.

"Kerjasama ini didasarkan pada dua pertimbangan yaitu nasionalisme dan kondisi riil. Pemerintah merasa perlu menyelamatkan Inti yang merupakan satu-satunya perusahaan perangkat telekomunikasi milik Indonesia," katanya.

"Pemerintah juga tentu ingin industri telekomunikasi kita berperan lebih besar di Indonesia," tambahnya. (kpl/rit)