"Toleransi kenaikan harga beras paling tinggi kita berikan 10-15 %, kalau itu terjadi kita akan gelontorkan beras ke Pasar," katanya usai mengikuti rapat koordinasi persiapan Lebaran di Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat.
Kebijakan stabilisasi harga beras sebelumnya mengharuskan Bulog untuk melakukan Operasi Pasar dengan beras kualitas medium (IR64-III) jika harga beras telah mencapai 25 % di atas rata-rata nasional selama 3 bulan terakhir.
Sejak tanggal 1 September 2007, lanjut Mustafa, pihaknya telah mulai melakukan OSHB di beberapa daerah yang harga berasnya dinilai rawan mengalami lonjakan.
"Sudah mulai jalan, ada di daerah yang kita golongkan kode merah (pergerakan fluktuasi harga di atas rata-rata),"ujarnya.
Operasionalisasi stabilisasi harga telah dilakukan di beberapa daerah seperti di Medan, Padang, Pekanbaru, Pangkal Pinang, Balikpapan, Manado, Ternate, Ambon dan Jayapura.
Di kota-kota tersebut, harga beras termurahnya telah berada di atas atau sama dengan Rp5.000 per kg, oleh karena itu dilakukan OSHB dengan menggunakan beras Bulog.
Sedangkan di kota-kota seperti Jakarta, Banda Aceh, Samarinda, Gorontalo, Denpasar dan Kupang yang harga berasnya antara Rp4.750 per kg - Rp5.000 per, dilakukan OSHB dengan beras impor kualitas patahan 25 %.
Di beberapa kota yang harga berasnya paling banyak beredar di tingkat Rp6.000 seperti Banda Aceh, Padang, Balikpapan, Jakarta, Palangkaraya, Ternate dan Sampit, Bulog mengintervensi pasar dengan beras kualitas premium patahan 5 %.
Menurut dia, distribusi harga yang terjadi secara nasional memang variatif namun rata-rata kenaikan harga masih di bawah 10 %.
"Yang paling murah di DKIB Jakarta dan yang paling tinggi di Jayapura, tapi harganya masih dalam batas toleransi,"jelasnya.
Target instrumen stabilisasi harga beras itu adalah menjaga harga beras rata-rata nasional agar tidak melebihi Rp4.750 per kg untuk harga beras termurah dan Rp6.000 per kg untuk harga beras umum yang banyak beredar.
Total kebutuhan untuk melakukan OSHB hingga Januari 2008, menurut dia, sebesar 500ribu ton yang akan dipenuhi dengan impor yang sedang dalam proses dan pengadaan beras dalam negeri.
"Kebutuhan beras akan kita tutup dengan impor yang masih berjalan dan pengadaan dalam negeri kita akan perbaiki dengan tidak hanya membeli dengan standar HPP (Harga Pembelian Pemerintah) tapi kita juga akan lakukan pembelian secara komersial,"paparnya.
Hingga kini, tambahnya, beras dari hasil pengadaan dalam negeri sudah mencapai 1,65 juta ton dari target 1,8 juta ton.
"Jadi sudah terealisasi 92 %, yang 8 % lagi tidak perlu masuk standar HPP, kita bisa beli dengan harga pasar biasa dan dijual dengan harga pasar tapi jangan sampai Bulog rugi,"katanya.
Sedangkan, realisasi kuota impor beras 1,5 juta ton telah mencapai 872.262 ton per 10 September 2007.
Sebanyak 32.150 ton sedang muat, 150.200 ton akan muat dari total kontrak yang telah disepakati 1,275 juta ton.
Bulog juga sedang melakukan tender untuk 70ribu ton beras impor sebagai bagian sisa kuota yang belum mendapatkan kontrak pengadaan. (*/rsd)