Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dalam siaran persnya, Jumat (14/9), mengatakan, komoditas ini (rumput laut) pantas menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan di samping udang dan tuna.
Dia mengatakan beberapa keunggulan rumput laut seperti peluang ekspor yang cukup besar, harga yang relatif stabil, belum adanya quota perdagangan bagi rumput laut, teknologi pembudidayaannya sederhana sehingga mudah dikuasai.
Selain itu, dia juga mengatakan, siklus pembudidayaannya relatif singkat hanya empat bulan, kebutuhan modal relatif kecil, padat karya sehingga menyerap tenaga kerja.
Produk rumput laut sendiri pada 2005 mencapai 910.636 ton, pada 2006 mencapai 1.079.850. Karena itu, dalam program revitalisasi perikanan budidaya sasarannya mencapai 1,9 juta ton.
Strategi pencapaian yang akan dilakukan adalah melalui pola pengembangan kawasan dengan komoditas Euchena sp dan Gracilaria sp. Luas lahan yang diperlukan sekitar 25.000 hektar, dengan pembagian 10.000 untuk Gracilaria sp dan 15.000 hektar Euchema sp.
Untuk pengembangan tersebut membutuhkan investasi dan modal sebesar Rp 70,98 miliar, dengan pembagian Rp2,77 miliar untuk Gracilia sp dan Rp68,210 miliar untuk Euchema sp.
Selain itu dilakukan pengembangan kebun bibit di sentra atau pusat pengembangan kawasan di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua.
Tenaga kerja yang akan terserap diperkirakan mencapai 255.000 orang. Dan untuk dukungan permodalan, pemerintah telah menyiapkan Rp173,9 miliar berupa Dana Penguatan Modal (DPM), 60% akan digunakan untuk usaha budidaya rumput laut. (*/rsd)