Salah seorang pengamat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Selaparang, Suparno ketika dihubungi di Mataram, Minggu (16/9) mengatakan, gempa tersebut terjadi sekitar pukul 23.57 Wita.
Posisi gempa pada 8.75 Lintang Selatan (LS) dan 115.44 Bujur Timur (BT) yakni sekitar 21 kilometer arah tenggara Sanur, Bali pada kedalaman sekitar 46 kilometer di dasar laut.
Getaran gempa di Kota Mataram sekitar 2-3 Modidified Mercalli Intencity (MMI) begitu juga yang tercatat dan dirasakan di Sanur 2-3 MMI.
Getaran yang terjadi Sabtu (15/9) tengah malam tersebut merupakan yang pertama terjadi setelah peristiwa beruntun yang terjadi di kawasan Jawa dan Sumatera, terutama Bengkulu dan Padang yang mengalami kerusakan cukup parah.
Sebagian warga masyarakat Mataram dan sekitarnya kini terus waspada terhadap kemungkinan terjadi gempa susulan mengingat kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) termasuk daerah rawan gempa karena berada pada lempengan yang membujur dari Australia hingga melintasi sejumlah daerah di Indonesia.
Daerah rawan gempa tersebut terutama pada daerah-daerah yang tersusun oleh endapan kuarter yakni endapan alluvial, endapan pantai, sungai, rawa dan endapan rombakan gunung api. (*/boo)




