Harga pembelian biji kakao kering oleh para pedagang pengumpul hasil bumi, di Palu, Sabtu, rata-rata Rp13.500-Rp14.200 per kilogram. Kemudian pedagang menjual kepada eksportir dengan harga Rp14.700 per kilogram.
Hani (45), seorang pedagang pengumpul hasil bumi, mengatakan melambungnya harga komoditi kakao tersebut disebabkan adanya kenaikan harga pembelian ditingkat eksportir, menyusul tingginya permintaan pasar dunia atas komoditi hasil perkebunan ini.
"Keadaan harga ini sudah berlangsung kurun tiga hari terakhir," tuturnya.
Ia mengatakan, naiknya harga biji kakao saat ini selain permintaan tinggi, juga disebabkan hasil panen petani sudah kurang. Dan biji kakao yang dijual petani saat ini hanya buah antara yang tertinggal waktu panen raya Juli lalu.
Bahkan, kata dia, sejumlah pedagang pengumpul hasil bumi di Palu, sudah menerapkan strategi untuk membeli biji kakao yakni turun langsung membeli biji kakao di desa-desa, sehingga petani tidak perlu bersusah payah mengeluarkan uang transpor untuk menjual hasil panennya ke kota.
"Pedagang pengumpul saat ini menerapkan sistem 'jemput bola' dengan menemui petani kakao di rumah atau kebun," tuturnya dan menyatakan adanya persaingan di tingkat pedagang untuk mendapatkan stok kakao sebanyak mungkin sehingga mereka turun ke desa-desa untuk melakukan pembelian secara langsung.
Membaiknya harga pembelian kakao juga telah mendorong petani pada sejumlah daerah hinterland Palu dan menjadi sentra produksi terbesar, seperti Kabupaten Parigi-Moutong da Kabupaten Donggala melepas stok yang mereka kuasai selama ini dalam gudang.
Arnold (32), petani kakao asal Kecamatan Kulawi di Kabupaten Donggala, mengatakan kebanyakan petani kakao di daerahnya menjual langsung kepada pedagang pengumpul yang datang ke rumah-rumah atau di kebun.
"Saya kira sangat bagus karena petani tidak lagi mengeluarkan biaya transpor dan makan, selain selisih harga pembeliannya tak jauh berbeda jika petani menjual langsung ke Palu," kata dia.
Namun, Arnold berharap tingkat harga kakao yang diberlakukan oleh pedagang pengumpul sekarang tidak lagi menurun drastis seperti yang terjadi pada pertengahan tahun lalu hingga di bawah Rp10.000 per kilogram.
Di tempat terpisah, Beni (40), pedagang pengumpul di Palu, mengakui harga kakao kering tiga hari terakhir bergerak naik, karena permintaan meningkat. Namun, katanya, hasil buah kakao saat ini sudah kurang, petani hanya memetik buah yang tertinggal panen raya Juli lalu.
"Pembelian biji kakao kering di Palu untuk bulan ini agak menurun karena panen raya sudah usai," katanya.
Setelah panen raya usai, setiap bulannya pembelian hanya berkisar antara 2.000-3.000 ton sedangkan pada waktu panen raya mencapai 5.000-7.000 ton dan sebagian besar berbentuk biji kakao asalan (tanpa fermentasi). (*/bun)