< >

Produksi Kawat Solder Indonesia Bertambah 5.600 Ton Per Tahun

Senin, 17 September 2007 07:18
Kapanlagi.com - Produksi kawat solder bebas timbal di Indonesia bertambah 5.600 ton per tahun dengan beroperasinya pabrik Bangka Solder Industri (BSI) di kawasan industri Jelitik Sungai Liat, Bangka.

Dirjen Industri Mineral, Logam, Tambang dan Aneka, Departemen Perindustrian RI, Ansyari Bukhari, di Bangka, akhir pekan lalu, menegaskan, kawat solder selama ini diproduksi oleh dua perusahaan dengan modal asing (PMA) dan dua perusahaan dengan modal dalam negeri (PMDN) dengan produksi yang masih di bawah kebutuhan pasar industri di dalam negeri.

Selama ini kebutuhan kawat solder dalam negeri sebagian masih bergantung dari China.

Produk hilir dari bahan baku timah kebutuhannya sangat besar tidak hanya kawat solder tapi juga 'tin spread', 'tin chemical' dan 'tin ball'. Sebagai pemasok bahan baku timah utama dunia, idealnya industri hilir timah terus dikembangkan.

Bangka

Presiden Komisaris PT Bangka Solder Industri, Hidayat Arsani, menyatakan produk dengan merek dagang kawat solder Pro-Sol itu merupakan industri hilir berbahan baku timah di Bangka. Pihaknya akan memproduksi 120 ton kawat solder timah per bulan.

Dibanding dengan harga balok timah yang permetrik tonnya dijual US$15.200, kabel solder harganya lebih tinggi yaitu mencapai US$20.000 permetrik tonnya.

Untuk pendirian pabrik, manajemen telah mengeluarkan dana sebesar Rp25 Miliar. Dana terbesar dikeluarkan untuk membeli perusahaan Prima Solder yang sudah mendapat sertifikat standar internasional berupa ISO dari Jerman, Amerika dan Jepang.

Pasar bagi pabrik diutamakan didalam negeri terlebih dahulu. Selama ini industri seperti elektronik mendapat pasokan solder kawat dari China dan Malaysia.

Untuk memproduksi 120 ton kawat solder hanya dibutuhkan bahan baku 200 ton, sedangkan produksi bijih timah di kuasa penambangan (KP) milik perusahaan jauh di atas jumlah itu.

Ketua umum Asosiasi Tambang Rakyat Indonesia itu juga meminta agar pengusaha timah di Bangka Belitung tidak lagi menjual dalam bentuk balok apalagi bijih timah.

Ia mengibaratkan penjualan produk jadi berbahan kayu setelah diolah jadi perabot bukan dalam bentuk kayu gelondongan. "Nilai tambah yang didapat sangat besar sekali. Bahkan keuntungannya bisa 300% ketimbang menjual bijih timah," tegasnya. (*/bun)