"Tidak menakut-nakuti, hanya memaparkan hasil penelitian dan pemantauan kami bahwa datanya seperti itu, masyarakat jangan panik, tetapi kewaspadaan memang perlu," kata Deputi Kepala LIPI bidang Ilmu Kebumian Dr Hery Harjono di Jakarta, Senin (17/09).
Menurut dia, jika segmen itu tidak terkunci maka sinyal GPS (alat untuk memantau pergerakan bumi) berlalu lancar seperti diberi pelumas dan tidak menunjukkan pergerakan bumi.
"Namun pemantauan GPS menunjukkan adanya penujaman terus-menerus lempeng Indo-Australia masuk ke busur kepulauan Sumatera dengan kecepatan sebesar 5-6 cm per tahun di lempeng Eurasia yang relatif diam sehingga mengakibatkan akumulasi energi," ujarnya.
Gempa-gempa beberapa hari terakhir ini ujarnya, masih berada di tepi-tepi selatan segmen Mentawai seperti di sekitar Pulau Enggano dan Pagai.
Jadi, lanjut dia, bukan berada di pusatnya di Siberut yang pada 1833 didera gempa 8,9 SR dan dari penelitian terumbu karang memiliki siklus berkisar 240 tahun, ujarnya.
"Yang di pusatnya ini masih belum pecah," katanya.
Ditanya kapan segmen tersebut bisa pecah (terjadi gempa) karena terlalu berat menahan tujaman lempeng Indo-Australia, Hery menegaskan tidak tahu kapan.
LIPI sendiri telah memasang 27 GPS untuk memantau pergerakan lempeng bumi, ditambah dua GPS lagi milik Bakosurtanal yang dipasang untuk memantau Sumatera dan pulau-pulau sekitar Sumatera. (*/lpk)