"Kami masih merumuskan kira-kira apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan kerja sama kedua negara," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi, Perhubungan, dan Telematika, Chris Kanter, di Jakarta, Senin (17/09).
Ia mengatakan para pengusaha dibawah koordinasi Kadin akan membahas dan menginventarisasi mengenai apa saja yang dibutuhkan Indonesia dalam kerja sama khususnya di bidang ekonomi dengan Cina.
Hal itu, kata dia, perlu dilakukan karena pada Oktober 2007 akan ada pertemuan bilateral antara Indonesia-Cina untuk membahas kerja sama kedua negara khususnya di bidang ekonomi.
"Kami harus menginventarisir apa saja yang kita perlukan dari Cina dalam kerja sama tersebut, agar lebih terarah dan sesuai dengan visi kita jangka panjang," katanya.
Untuk itu, lanjut Chris, Kadin menyiapkan Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) untuk melakukan hal tersebut. Hadir dalam rapat tersebut sejumlah pimpinan Kadin Indonesia, seperti Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Ketut Swardana Linggih serta sejumlah pengusaha yang selama ini bekerja sama dengan Cina seperti Presdir Grup Indomobil Gunadi Sindhuwinata.
Menanggapi pertanyaan apakah kasus pelarangan sejumlah produk mainan dan makanan Cina di Indonesia mengganggu rencana investasi Cina di Indonesia, Chris mengatakan sejauh ini semua rencana investasi negara itu berjalan sesuai jadwal.
"Tidak ada hambatan investasi karena hal itu (larangan peredaran sejumlah produk makanan Cina di Indonesia)," katanya.
Indonesia sendiri menargetkan kerja sama bilateral RI-Cina mampu meningkatkan hubungan dagang kedua negara yang diproyeksikan pada 2010 mencapai sekitar US$30 miliar.
Total nilai perdagangan dua negara pada 2006 mencapai US$14,98 miliar yang terdiri dari ekspor Indonesia ke Cina mencapai sekitar US$8,34 miliar dan impor dari Cina sebesar US$6,64 miliar.
Selama Januari-Mei 2007, ekspor Indonesia ke Cina telah mencapai US$3,71 miliar sedangkan impornya US$3,26 miliar. (*/lpk)