Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar di Jakarta, Senin mengatakan, dalam kondisi normal jumlah CBP yang harus dimiliki Bulog minimal 350 ribu ton.
"Menipisnya stok CBP, dikarenakan tingginya penggunaan CBP untuk keperluan operasi pasar (OP) dan untuk bantuan darurat atau bencana alam," katanya usai rapat dengan pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI.
Dalam tahun 2007, tambahnya, penggunaan CBP untuk keperluan OP mencapai 319.166 ton, sedangkan untuk bantuan darurat/bencana sebanyak 58.839 ton.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kekurangan tersebut, perum Bulog mengajukan anggaran pengadaan tambahan CBP dalam APBN Perubahan 2007 sebesar Rp1,181 triliun untuk pengadaan CBP sebanyak 255.693 ton.
Meskipun jumlah CBP yang dimiliki Bulog saat ini dalam kondisi kritis, namun Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menjamin ketersediaan cadangan beras yang ada di sejumlah wilayah yang saat ini mengalami bencana dalam kondisi cukup.
Menurut dia, cadangan beras yang ada di gudang Bulog di Bengkulu, saat ini mencapai 6.500 ton. Sedangkan di Sumatra Barat sebanyak 11 ribu ton.
"Sampai saat ini masih cukup tidak ada yang mengeluh atau meminta tambahan.Jadi dua-duanya aman untuk penanggulangan bencana alam," katanya.
Menyinggung tambahan CBP 255.693 ton, Mustafa mengatakan, baru dapat direalisasikan Oktober mendatang yang mana pengadaannya akan dilakukan dari dalam negeri.
Namun untuk mengisi kekurangan CBP ini dalam jangka pendek, kata dia, Bulog akan mengalihkan stok beras yang diperuntukkan bagi penyaluran raskin maupun operasi stabilisasi harga yang tidak lagi menggunakan alokasi CBP.
"Kita boleh menggunakan stok yang lain asal segera diganti dengan pembukuan yang rapi," ujar Mustafa.
Sementara itu dalam RAPBN 2008, Bulog mengajukan pagu indikatif CBP sebesar 1 juta ton hingga akhir 2008.
Dengan tambahan 255 ribu ton tersebut, lanjutnya, maka Bulog tinggal menambah 745 ribu ton untuk stok sampai akhir 2008.
Sedangkan untuk menjaga stabilisasi harga beras nasional, pihaknya akan lebih mengutamakan pengadaan impor untuk beras kualitas premium dengan tingkat butir patah (broken) 5%.
"Selama ini beras kualitas premium juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap inflasi," katanya.
Terkait dengan impor beras kualitas premium tersebut, Bulog telah mengantongi izin impor sebanyak 70 ribu ton dari Departemen Perdagangan. "Pada Senin (24/09) depan rencananya kita akan buka penawaran tendernya," katanya.
Beras premium impor hanya akan digelontorkan pada saat harga diindikasikan mulai merangkak naik dan penyalurannya hanya akan dilakukan di wilayah-wilayah kota besar yang memang banyak mengkonsumsi jenis tersebut.
"Contohnya DKI Jakarta sudah mengajukan 30 ribu ton untuk beras kualitas premium ini," katanya.
Hingga saat ini, Bulog telah menyalurkan sekitar 80 ton beras kualitas medium untuk operasi stabilisasi harga di kota Medan dan Manado karena harga beras di kedua kota ini, menurutnya, mengalami kenaikan sekitar 10%.
"Seluruh Divre Bulog sudah sepakat batasan maksimal kenaikan (harga) yang harus diwaspadai adalah 10% dari harga rata-rata yang terbentuk di setiap daerah per akhir Agustus 2007 lalu," ujar Mustafa. (*/lpk)