< >

KADIN Papua Gencar Antapulakan Kepiting

Selasa, 18 September 2007 09:48
Kapanlagi.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Papua gencar mengantarpulaukan kepting yang bernilai ekonomi tinggi ke Bali dan menyusul Jawa setelah mendapat begitu banyak permintaan dari para pebisnis kepiting di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Denpasar.

"Permintaan para pebisnis dari kota-kota besar di Indonesia kepada Kadin Papua agar mengantarpulaukan kepiting dari Papua semakin banyak dan untuk tahap pertama kami bangun jaringan perdagangan kepiting dengan para pebisnis kepiting di Denpasar Bali," kata Ketua Kadin Papua, Jhon Kabey dalam satu wawancara khusus dengan ANTARA di Jayapura, Selasa.

Prospek bisnis kepiting ini cukup menjanjikan. Permintaan dari Denpasar baru dapat dipenuhi pihak Kadin sebanyak tiga ton per minggu sedangkan dari Jakarta jumlahnya melebihi permintaan Denpasar.

Malahan, para pebisnis kepiting Singapura pun sudah melakukan kontak dengan Kadin Papua untuk mengirimkan kepiting bermutu ke negeri Singa itu.

Sejak Agustus, pihaknya sudah antarpulaukan kepiting ke pulau Dewata lebih dari satu ton dalam rangka uji coba jalur perdagangan guna mengukur biaya transportasi dan pembelian dari masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Mimika yang dikenal sebagai salah satu wilayah di Papua yang sangat banyak menghasilkan kepiting yang bermutu.

Kadin membeli kepiting di pasar kota Timika seharga Rp9.000 per ekor dengan ukuran sangat besar dan harga beli yang sama berlaku juga di kampung-kampung terpencil di wilayah itu yang selama ini hanya dapat dijangkau dengan transportasi pesawat udara.

"Harga beli kepiting di Timika, ibukota Kabupaten Mimika sama dengan yang dibeli di kampung-kampung terpencil dan terisolasi merupakan kebijakan Kadin dalam rangka mendukung program pembangunan lima tahun yang dicanangkan Gubernur Barnabas Suebu,SH yaitu Rencana Strategis Pembangunan Kampung atau Respek," katanya.

Selama ini, harga seekor kepiting ukuran besar di pasar Timika antara Rp7.000 hingga Rp9.000 per ekor sedangkan di kampung-kampung terpencil dan terisolasi dibeli dengan harga Rp2.000 per ekor.

Kadin Papua justeru berupaya agar harga kepiting di kota Timika sama dengan yang di kampung-kampung. Sedangkan para pebisnis kepiting di Denpasar dan Jakarta membelinya dengan harga Rp30 ribu per ekor dengan asumsi berat kepiting tersebut satu kilogram per ekor.

Tentang kesiapan masyarakat Papua mengantarpulaukan kepiting dalam jumlah yang banyak itu, Jhon Kebey mengatakan: Kadin sangat mengharapkan agar masyarakat mulai melakukan budidaya kepiting agar permintaan yang terus-menerus dan dalam jumlah yang banyak dari berbagai kota besar di Indonesia tidak berhenti hanya karena kehabisan persediaan kepiting di wilayah ini.

Apabila persediaan kepiting di Mimika semakin berkurang tanpa dilakukan budidaya komoditi ini maka Kadin Papua terpaksa harus melakukan ekspansi ke wilayah lain di luar Mimika khususnya di Kimam, Asmat, Waropen dan tentu saja wilayah ini sangat jauh dari kota Timika.

Padahal, lanjutnya Kadin Papua dalam proses mengantarpulaukan kepiting ini mengandalkan Timika khususnya Bandar Udara (Bandara) Moses Kilangin sebagai titik berangkat berbagai komoditi andalan wilayah Papua tengah.

"Kadin Papua akan ambil bagian pada berbagai pameran sumber daya alam Papua di fora internasional dan kami sudah bertekad akan memamerkan kepiting Papua sebagai salah satu komoditi andalan masa depan dalam rangka mengangkat derajat ekonomi rakyat Papua yang mayoritas bermukim di kampung-kampung terpencil dan terisolasi," katanya. (kpl/rit)