Gempa yang terjadi saat sebagian warga Bengkulu sedang melaksanakan makan sahur terjadi pada episenter 3,53 Lintang Selatan (LS) dan 100,99 Bujur Timur (BT). Pusat gempa berada di 117 Km Barat Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu dengan kedalaman 60 Km. Sementara gempa berikutnya berkekuatan 5,4 SR terjadi pada jam 04:23:19 WIB, dengan lokasi berada pada 6,35 LS dan 102,66 BT dan pusatnya di 190 Barat Daya Kecamatan Bintuhan, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.
Selama Senin (17/9), Bengkulu diguncang tiga kali gempa dengan kekuatan cukup besar, yakni pada pukul 22:55:42 WIB dengan kekuatan 5,5 pada skala richter (SR). Kemudian pada pukul 12:13:45 WIB terjadi gempa 5,2 SR dan jam 08:39:09 WIB berkekuatan 5,1 SR. Ketika gempa yang terjadi kemarin seluruh berlokasi di Lais, Kabupaten Bengkulu Utara. Bengkulu diguncang gempa tektonik berkekuatan 7,9 SR pada Rabu petang (12/9) pukul 18.10 WIB. Hingga Senin pukul 21:00 WIB, korban yang ditimbulkan akibat musibah tercatat 15 orang meninggal, 12 orang luka berat dan 38 orang luka ringa.
Gempa tersebut juga telah menimbulkan kerusakan pada rumah penduduk, bangunan pemerintah dan fasilitas umum lainnya. Tercatat sebanyak 7.905 rumah penduduk rusak total, 6.746 rusak berat dan 13.184 rusak ringan, kemudian rumah ibadah 139 rusak total, 34 rusak berat dan 104 rusak ringan, fasilitas pendidikan tercatat 260 rusak total, 440 rusak berat dan 185 rusak ringan. Kantor pemerintah, sebanyak 48 rusak total, 207 rusak berat dan 145 rusak ringan, fasilitas kesehatan, tercatat 70 rusak total, 131 rusak berat dan 130 rusak ringan, jalan/jembatan sebanyak 86 rusak total, 168 rusak berat dan 58 rusak ringan, irigasi sebanyak 46 rusak total, 100 rusak berat dan 48 rusak ringan. Bengkulu merupakan salah satu daerah paling rawan gempa. Pada 4 Juni 2000, daerah ini diguncang gempa tektonik 7,3 SR yang telah menimbulkan korban jiwa 94 orang dan ribuan lainnya luka-luka.
Akibat gempa tersebut ribuan rumah penduduk, bangunan/instansi pemerintah serta fasilitas umum rusak dengan kerugian mencapai Rp400 miliar lebih. (*/cax)




