Sejumlah penjual jasa membawa uang pecahan Rp1.000, Rp5.000, Rp10.000 yang masih dalam ikatan, berusaha menawarkan kepada masyarakat yang melintas di jalan sekitar Kantor BI Surabaya, Rabu.
Penjual jasa penukaran uang receh seperti itu diperkirakan akan semakin banyak ketika Hari Raya Idul Fitri semakin dekat. Hal seperti itu, juga terjadi pada menjelang Lebaran tahun-tahun sebelumnya.
Masyarakat yang menukarkan uang receh baru melalui penjual jasa penukaran uang, biasanya akan dikenai biaya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per Rp100 ribu. Sedangkan uang pecahan yang diminati adalah Rp1.000, Rp5.000 dan Rp10.000 dan Rp20.000.
Namun, masyarakat yang akan menukarkan uang pecahan perlu hati-hati jika menukarkan uang melalui penjual jasa penukaran yang ada di pinggir jalan.
Sebab, masyarakat yang hampir tidak punya kesempatan untuk menghitung uang hasil penukaran, terkadang dirugikan dengan kurangnya jumlah uang yang semestinya.
Sementara itu, BI sendiri telah berusaha memberian pelayanan dengan menunjuk Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil (PPUK) yakni PT Kelola Jasa Artha (Kejar), PT Sarana Artha Kencana (SAK), PT Citra Inti Garda Artha (CIGA), PT Sinar Artha Kendali Sentosa, dan PT Universal Security Indonesia.
Mitra BI tersebut biasanya menggelar layanan penukaran uang di sejumlah pusat keramaian masyarakat seperti pasar, pusat perkantoran dan lainnya.
Deputi Pemimpin BI Surabaya, Machmud, mengungkapkan, menghadapi meningkatnya permintaan masyarakat, BI telah menyiapkan uang pecahan sekitar Rp110 miliar atau meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar Rp78 miliar.
Kendati demikian, BI juga telah melakukan antisipasi jika permintaan masyarakat jauh lebih tinggi dengan adanya stok uang tunai yang mencapai Rp4 triliun. (kpl/rit)