Gagal Dapat Lisensi SLI, XL Manfaatkan Masa Sanggah
Kapanlagi.com - PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akan memanfaatkan masa sanggah yang ditetapkan Ditjen Postel Depkominfo, setelah dinyatakan gagal memenangkan tender lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI)."Kita akan manfaatkan masa sanggah dengan mempertanyakan syarat dan ketentuan mana dari tender itu yang menyebabkan XL tidak menang," kata Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi kepada ANTARA, di Jakarta, Rabu. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:415/KEP/M.Kominfo/9/2007 tertanggal 14 September 2007, PT Bakrie Telecom ditetapkan sebagai pemenang tender SLI, mengalahkan dua peserta lainnya yakni XL dan Natrindo Telepon Seluler (NTS). Tim Seleksi tender SLI membuka kesempatan kepada peserta seleksi yang tidak merasa puas dengan hasil seleksi ini untuk menggunakan masa sanggah mulai sejak pengumuman pemenang pada 17 September hingga 21 September 2007. Menurut Hasnul, pemerintah harus menjelaskan secara transparan kepada publik alasan memenangkan Bakrie Telecom. "Terus terang kami agak kaget dengan hasil tender tersebut, untuk itu pemerintah harus menjelaskannya, sehingga tidak ada dusta di antara kita," tegas Hasnul. Ia berpendapat, dari sisi teknis berupa penyediaan sarana dan jalur alternatif ketersambungan internet ke Tier-1, XL cukup kompetitif dibandingkan Bakrie Telecom. "Kami telah menyiapkan dana sekitar 20 juta dolar AS. Tujuan kami mendapatkan lisensi agar dapat menawarkan tarif SLI yang murah ke masyarakat. Sayang niat mulia ini tidak menjadi bahan pertimbangan pemerintah," ujarnya. Hasnul mengklaim, pada rute Tier-1, XL akan menggunakan jalur alternatif dengan tidak melalui Singapura sebagai negara transit, tetapi Malaysia. "Padahal, pemenang tender (Bakrie Telecom) memanfaatkan jalur Singapura, yang menurut tim seleksi tender rute ini justru mendapat penilaian yang rendah," tandas Hasnul. Dalam ketentuannya, Tim Seleksi menetapkan bahwa pemenang tender diwajibkan dalam lima tahun pertama membangun sentral gerbang internasional (SGI) yaitu Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, Medan dengan satu landing poin yaitu Batam. "Dari sisi infrastruktur kami sudah jauh lebih siap, karena telah menyelesaikan pembangunan serat optik yang menghubungkan Batam dan Melaka," kata Hasnul. Sejumlah kalangan mempertanyakan kesanggupan Bakrie Telecom menggelar infrastruktur jaringan SLI termasuk ketentuan menyediakan dana investasi sebesar Rp222,9 miliar. Sementara itu, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, wajar XL merasa kecewa atas keputusan pemerintah tersebut. "Dengan infrastruktur yang sudah dimiliki, sepertinya XL memang merasa layak mendapatkan lisensi itu," ujarnya. Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah memberikan lisensi SLI kepada ketiga operator tersebut -- Bakrie Telecom, XL dan NTS-- sehingga tinggal melakukan persaingan yang sehat yang akhirnya menguntungkan masyarakat. (kpl/rit) |