< >

Perdagangan Lintas Batas Kaltim Surplus Rp470 Miliar

Kamis, 20 September 2007 07:39
Kapanlagi.com - Perdagangan lintas batas antara Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Sabah (Malaysia Timur) tahun 2006 mengalami surplus sekitar Rp470 miliar yang mengalir untuk kas daerah.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim, Selasa, nilai ekspor perdagangan lintas batas yang tercatat mencapai Rp1,056 miliar. Di lain pihak, kegiatan impor pada periode yang sama mencapai Rp581,3 juta.

Kepala Disperindagkop Kaltim, Irianto Lambrie, mengatakan jumlah perdagangan lintas batas tersebut berada di Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Tawau, Sabah. Menurut dia, perdagangan tersebut juga membawa keuntungan lain bagi Kaltim seperti ketersediaan pasokan sembilan bahan pokok (Sembako) di bagian Utara Kaltim.

"Lancarnya pasokan sembako dari negara tetangga, kemungkinan terjadinya kelangkaan di kawasan perbatasan itu bisa dicegah," katanya.

Ia menjelaskan, barang yang masuk dari negara tetangga itu sebagian besar berupa Sembako. Sedangkan dari Kaltim lebih banyak bahan baku seperti kopi, pisang, dan kakao yang dijual secara tradisional.

Namun, ia menyayangkan perdagangan lintas batas ini tidak dikelola dengan baik, sehingga perlu ada upaya perbaikan. Sebagai gambaran, ujarnya, sejak 1967 aturan mengenai perdagangan lintas batas tidak pernah direvisi. Padahal dalam aturan itu, warga Kaltim hanya boleh belanja ke Malaysia dengan nilai 600 Ringgit Malaysia.

"Melihat kondisi sekarang, tentunya tidak sesuai lagi karena terlalu kecil dan kami mengusulkan agar ditingkatkan paling tidak dengan nilai 1.500 Ringgit Malaysia per orang," sebutnya.

Kaltim terus mendorong kegiatan ekspor yang berorientasi daya saing agar produk yang dihasilkan bersaing di pasaran luar negeri. Harus diakui sampai kini ekspor yang dilakukan belum mampu meningkatkan nilai tambah dari ekspor.

Kondisi itu terjadi karena barang yang diekspor sebagian besar berupa bahan baku, antara lain berupa kayu yang lebih banyak dikirim dalam bentuk mentah alias gelondongan sehingga negara lain yang menikmati nilai tambahnya.

"Hal ini memang aneh tapi nyata, ekspor kayu Malaysia lebih tinggi ketimbang Indonesia. Padahal Malaysia tidak punya hutan. Kayu dari Indonesia diakui milik Malaysia, sehingga merugikan kita," ujarnya. (*/rsd)