Sepinya penjualan kaset ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelum Indonesia, Korea dan Thailand telah mengalaminya beberapa tahun lalu.
Kaset-kaset yang tidak terjual di toko-toko dan dikembalikan ke perusahaan rekaman menimbulkan kerugian. Di Universal Music misalnya, menurut Daniel, kaset-kaset yang dikembalikan itu harus dihancurkan karena biasanya telah rusak pada bagian segelnya atau kualitas kaset menurun karena tersimpan lama di rak toko atau di gudang toko.
"Pemasaran kaset itu anjloknya sangat cepat, dan naiknya susah. Tidak mudah mengembalikan penjualannya naik lagi," ujar Daniel yang merasakan gejala sepinya pemasaran kaset sejak November-Desember 2006.
Pemasaran kaset yang lesu itu menurut Daniel di antaranya karena semakin membanjirnya MP3 bajakan atau CD bajakan di berbagai tempat, barang itu sangat mudah diperoleh publik, dan harganya terpaut jauh lebih murah.
Tanpa merinci besarnya produksi jumlah CD dan kaset, ia mencontohkan, pada penjualan 2006 tercatat CD yang terjual baik penyanyi/grup musik dalam dan luar negeri sebanyak 20 persen saja sedangkan pasar kaset mencapai 80%. Sementara keadaan berubah pada 2007, ketika pasar CD menjadi 60% dan kaset 40%.
Keadaan sepi penjualan ini, menurut Daniel, semakin terasa memasuki Maret-April-Mei hingga pertengahan tahun. Meski demikian pihaknya mengaku optimis dan tidak lantas patah semangat. "Kami melakukan serangkaian langkah untuk mengatasi sepinya pasar kaset ini," tambahnya.
Langkah yang ditempuh di antaranya dengan menggenjot penjualan CD. Karena harga CD bagi sebagian orang cukup mahal, maka pada Januari lalu pihaknya menurunkan harga CD penyanyi/grup band asing dari Rp75.000 menjadi Rp55.000 per keping.
"Kami optimis setiap penyanyi dan grup band di bawah Universal Music akan mampu terjual hingga jutaan kopi, kami tidak khawatir. Tapi sepinya penjualan kaset ini memang harus segera dicarikan solusinya sebab biasanya penjualan kaset yang selalu terbanyak dibanding penjualan CD," demikian katanya. (*/erl)