Kepala Desa Sampanahan Hulu, Wahid( 54) mengungkapkan, sudah hampir enam bulan ini warganya mulai resah, karena pedagang tidak mau membeli pisangnya yang sudah dipetik, sehingga pisang yang sudah dipanen dan menumpuk dibiarkan membusuk.
"Alasannya sih pisang warga itu kena penyakit, sehingga para pedagang tidak mau membeli walaupun kelihatan kulit dan bentuk pisang tersebut baik, tetapi di dalamnya buruk," jelas Wahid, Senin.
Dijelaskan, sekitar 400 kepala keluarga (KK) warga Sampanahan Hulu sudah beberapa tahun ini mengembangkan tanaman pisang kepok, dan hasil pisang menjadi sumber pendapatan andalan warga di pesisir utara itu.
Akan tetapi akhir-akhir ini mereka mulai lesu dan tidak bergairah, dalam menghadapi serangan penyakit pisang layu fusarium.
"Lebih 200 hektare tanaman pisang warga kami diserang penyakit tersebut. Dan mereka meminta agar kami berkoordinasi dengan instansi terkait, sebab mereka tidak mampu memberantasnya, meskipun telah berbagai cara dilakukan," terang Wahid.
Wahid menjelaskan, rata-rata setiap bulan buah pisang yang dihasilkan dari kebun warganya mencapai 50.000 sisir, dan setiap sisir pisang tersebut dibeli oleh pedagang dari Surabaya dan Kalimantan Timur sebesar Rp1.000.
Namun sejak merebaknya penyakit layu fusarium tersebut, kini warga mulai mencari usaha lain dan menjadi buruh harian lepas pada perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kotabaru, Ir Gusti Syafrin Masrin, mengaku telah mengidentifikasi serangan penyakit layu fusarium/layu bakteri pada 600 hektare tanaman pisang di Sengayam, Pamukan Barat serta 35 ha di Sungai Durian.
Menurut Gusti , bakteri yang menyebabkan buah pisang membusuk tersebut tidak dapat diberantas dengan jenis insektisida, selain batang pisang yang diserang penyakit layu fusarium atau layu bakteri dibongkar dan dibakar.
"Setelah melihat pucuk daun pisang menguning, itu tandanya penyakit layu fusarium menyerang, segera batang pisang dibongkar dan dibakar agar mata rantai penularannya terputus, karena sampai saat ini belum ada jenis insektisida/fungisida yang dapat membunuh bakteri layu fusarium," papar Safrin.
Selain memusnahkan batang pisang yang diserang penyakit, petani dan pedagang diimbau untuk tidak melakukan kontak langsung dengan peralatan dan sarana angkutan ke kebun pisang.
Seperti halnya truk yang biasa membawa pisang dari Kaltim jangan sampai masuk ke kebun pisang kita di Kotabaru, begitu juga dengan peralatan mereka jangan sampai digunakan untuk petani di sini, demikian Safrin.
Selanjutnya, petani diimbau untuk mengganti jenis tanaman pisang dengan tanaman palawija pada lahan perkebunan pisang.
"Paling tidak selama satu tahun petani harus mengganti tanaman pisangnya dengan jenis tanaman palawija, seperti jagung, kedelai, padi, singkong serta tanaman palawija lainnya, agar penyakit layu fusarium tidak dapat berkembang biak," ujarnya. (*/cax)