Komposisi ini seolah membawa penonton tenggelam dalam kemeriahan rakyat Xin Jiang - sebuah provinsi dengan mayoritas masyarakat Muslim di China yang sedang merayakan panen anggur.
Konser ini merupakan kedua kalinya setelah penyelenggaraan pada 2006 yang khusus digelar dalam rangka merayakan musim kue bulan atau yang dikenal masyarakat Tionghoa sebagai musim 'Chung Chiu'. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (25-26 September) ini digagas oleh Yayasan Pentamanunggal Lestari sebagai pengelola Penta`s Musik.
Selain Xi Wen, musisi China yang tampil dalam konser ini adalah Prof Lie Kun Li, Wang Yang, Cheung Li, dan Yek Fei Sheng. Mereka berkolaborasi dengan seniman musik tradisional Tionghoa dari Indonesia seperti Tahir Loka, Carlin E.Y, dan Budi K Tandiyo. Kolaborasi itu menyuguhkan keindahan nuansa bunyi alat musik tradisional Tionghoa seperti Pi Pa, Er Hu, Di Zi, dan Guzheng.
"Tujuan utama konser ini adalah untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan minat masyarakat terhadap musik tradisional Tionghoa, serta melestarikan salah satu seni budaya di negara kita," ujar Ketua Panitia Konser 'Mid Year Chinese Music Concert 2007', Tahir Loka.
Ia mengungkapkan perkembangan seni musik tradisional Tionghoa di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga sangat tertinggal.
"Dulu musik ini masuk ke Indonesia bersama orang-orang Tionghoa yang berimigrasi ke Indonesia, tetapi terputus hubungan informasi dengan China daratan sehingga seni musik tradisional ini tidak berkembang," tambahnya.
Saat ini, lanjut pria yang akrab dipanggil Ahok ini, musik tradisional China dapat dinikmati melalui interaksi dengan artis-artis dan pengajar dari universitas terkemuka di China.
Konser hari pertama The Spirit of Nature menghadirkan sejumlah komposisi di antaranya XUE SHAN CHUN XIAO yang dibawakan Cheung Lei dengan solo Guzheng. Lagu ini melukiskan keindahan Dataran Tinggi Tibet di musim semi.
Sementara dalam komposisi MU MIN XIN GE dengan alat musik Di Zi yang dimainkan Yek Fei Sheng bersama iringan musik ensemble menggambarkan suku Meng Gu (Mongolia) yang hidup turun temurun pada dataran rumput yang luas tak bertepi. Musiknya yang riang seolah mengekspresikan kecintaan mereka pada alam dan kehidupan yang bebas.
Konser hari kedua (26/9) akan menyajikan komposisi yang berbeda, di antaranya BA LI DAO sebuah lagu asli Indonesia yang menggambarkan keindahan Pulau Bali.
Acara ini mendapat sambutan positif dari warga Tionghoa di Jakarta. Mereka memenuhi hampir seluruh kursi pertunjukan di GKJ dan tak beranjak hingga acara usai. Tepuk tangan bergemuruh di akhir konser pada saat para musisi China ini menyelesaikan komposisi mereka. (*/boo)