Siaran itu merupakan hasil tender siaran BPL untuk televisi swasta yang dilaksanakan oleh ESPN Star Sports (ESS) yang difasilitasi Astro Indonesia dan Astro Malaysia.
Siaran lain adalah preview games dan highlight yang hak siarnya juga ditawarkan ESS kepada stasiun televisi swasta di Indonesia.
Halim mengatakan, meski telah disiarkan di televisi swasta, Astro tetap menyiarkan total 370 pertandingan BPL terutama pertandingan- pertandingan yang melibatkan tim-tim papan atas beserta preview dan post games serta highlight yang menyoroti tiap pertandingan.
Menurut dia, hal ini dilakukan sesuai dengan peran Astro Indonesia sebagai carrier pasokan program yang diperoleh dari Astro Malaysia sebagai content provider.
"Sejak pertama kali menyiarkan acara BPL Agustus lalu, kami tidak pernah mengklaim monopoli atau program eksklusif. Sekarang, dengan Lativi keluar sebagai pemenang tender ESS dan sudah menyiarkan pertandingan BPL, tuduhan bahwa Astro memonopoli BPL makin kedaluwarsa," katanya.
Ia mengatakan, program eksklusif di televisi merupakan praktik bisnis biasa yang berlaku dan diterima semua pihak di dunia pertelevisian.
Ia mencontohkan, siaran liga Jepang, Liga Jerman, dan Liga Italia juga disiarkan secara eksklusif beberapa stasiun televisi. Bahkan salah satu televisi terbayar juga mempunyai tayangan eksklusif seperti Liga Jepang dan Liga Jerman yang notabene tidak ada di FTA.
Lebih lanjut, di Singapura, televisi berlangganan Starhub menguasai BPL yang tidak dimiliki oleh Singtel sebagai operator terbayar lainnya.
"Kami berharap bahwa dengan penyiaran BPL di Lativi, maka tidak ada lagi pihak-pihak yang membuat pernyataan atau membuat aksi-aksi yang membuat kami tidak punya pilihan lain selain mengambil langkah hukum untuk mempertahankan hak-hak kami," demikian Halim. (kpl/dar)