"Tiga KRI sudah berpatroli dilokasi perairan laut yang diduga lokasi tenggelamnya KM Rajawali, namun belum ada tanda-tanda temuan kerangka kapal dan ABK," kata Komandan Lantamal VIII Bitung, Laksamana Pertama Edy Yusuf, Selasa di Manado.
Edy Yusuf menduga 12 ABK yang dinyatakan hilang, telah terbawa arus laut hingga ke arah Timur, sehingga pihak TNI AL terus menyusuri lokasi tersebut.
"Pihak TNI AL terus melakukan kontak dengan TNI Angkatan Udara, Tim SAR serta pihak kepolisian, guna melacak hilangnya ABK," ungkapnya.
Apalagi kondisi cuaca di perairan Sulut, cukup berbahaya dengan dengan tingginya gelombang dan kuat kecepatan angin, sehingga membuat sejumlah KM maupun kapal angkutan penumpang umum untuk selalu berhati-hati melakukan perjalanan jauh.
Informasi diterima TNI AL, KM Rajawali sebelum terjadi musibah, berangkat dari pelabuhan laut di Kota Bitung, Sulut menuju Ambon, Maluku, pada Jumat (28/9) sekitar pukul 05.00 wita.
Sekitar pukul 16.00 wita, diduga kapal tersebut mengalami bocor serta dihantam ombak besar di dekat perairan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara.
Kontak terakhir terjadi pada Jumat sekitar pukul 19.00 wita, kemudian tidak terjadi lagi komunikasi, diduga kapal mengangkut 12 ABK tenggelam pada posisi 12 mil dari Belang. (*/cax)




