Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Muhammad Haris di Semarang, Rabu mengatakan, kebutuhan gula Jateng saat ini per tahun mencapai 360 ribu ton, sedangkan produksi pabrik gula hanya 196 ribu ton sehingga kekurangan 164 ribu ton gula harus dipasok dari luar Jateng.
Produksi gula sebanyak 196 ribu ton tersebut dihasilkan dari pabrik gula non-PTPN sebanyak 76 ribu ton dan dari PTPN IX sebanyak 120 ribu ton.
"Jika melihat kondisi saat ini, target yang dulu dicanangkan Gubernur Mardiyanto kala itu supaya Jateng bisa swasembada gula tahun 2008, nampaknya sulit terwujud," katanya.
Haris yang Selasa pekan ini meninjau Pabrik Gula Sragi, Kabupaten Pekalongan mengatakan, program revitalisasi dan akselerasi produksi pabrik gula tidak akan berhasil karena pemerintah kurang serius menanganinya.
Hal itu terlihat, pemerintah tidak mengalokasikan anggaran yang mencukupi untuk mendukung program tersebut. Untuk melakukan revitalisasi dan akselerasi PG Sragi, misalnya, membutuhkan dana sekitar Rp23 miliar.
Dana sebanyak itu antara lain untuk membeli peralatan yang dibutuhkan untuk penggilingan tebu namun sampai kini pemerintah belum memberi jawaban atas pengajuan usulan anggaran tersebut.
"Bagi pemerintah pusat, anggaran Rp23 miliar itu kecil namun sampai saat ini tidak ada kejelasan. Bagaimana mungkin program tersebut akan berhasil jika tidak didukung dengan pendanaan yang jelas," katanya.
Menurut dia, saat ini peralatan yang dipakai pabrik gula di Jateng tergolong sangat kuno, sebagian merupakan peninggalan Belanda.
Mesin-mesin tersebut diperbaiki atau diperbarui pada tahun 1970 sehingga saat ini kondisinya memprihatinkan. "Kalau dengan mesin seperti itu, sulit untuk meningkatkan produksi sehingga sulit pula mewujudkan swasembada gula," katanya. (*/lpk)