"Untuk meningkatkan daya saing pariwisata tidak cukup hanya Bali dijadikan sebuah `brand image` bagi Indonesia di mata dunia," kata Presiden Arrbey Indonesia, Handiro Hadi Joewono, di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan penetapan citra yang solid perlu dilakukan. Dalam arti Indonesia memerlukan sebuah "brand image" yang mampu membawa Indonesia memiliki daya saing di dunia, tidak hanya sekedar daya saing untuk pariwisata saja tetapi untuk perekonomian negara.
Menurut Handito, penetapan "brand image" tersebut harus kuat sehingga diperlukan payung hukum yang jelas. Bila perlu dikukuhkan dengan Tap MPR.
WEF sebagai pihak yang mempublikasikan penelitian terbarunya yaitu TTCI 2007 mencatat Singapura berada di posisi delapan, Malaysia berada di posisi 31, dan Thailand berada di posisi 43, jauh diatas Indonesia yang berada di posisi 60 dari 125 negara.
Dalam penelitian tersebut, menurut Handito, TTCI mengukur beberapa faktor dan kebijakan yang membuat usaha untuk mengembangkan sektor "Travel and Tourism" (T&T) di beberapa negara berbeda.
Terdapat 13 pilar yang berperan dalam peningkatan daya saing di sektor T&T tersebut, yakni peraturan dan kebijakan, kebijakan lingkungan, keselamatan dan keamanan, kebersihan dan kesehatan, memprioritaskan sektor T&T, infrastruktur transportasi udara, infrastruktur transportasi darat, infrastruktur pariwisata, infrastruktur teknologi informasi, daya saing harga dalam industri T&T, sumber daya manusia, persepsi pariwisata nasional, dan sumber daya alam dan kebudayaan.
Dalam "The Growth Competitiveness Index" yang juga dipublikasikan WEF, daya saing Indonesia di antara 125 negara lainnya pada 2006 memang mengalami peningkatan. Indonesia berada di posisi 60 pada 2005, sedangkan 2006 Indonesia berada di posisi 50.
Menurut Handito, peningkatan peringkat tersebut dipacu oleh mudahnya akses untuk mendapatkan pinjaman, menurunnya kekuatan kelompok bisnis, dan kebijakan anti-trust yang lebih efektif.
Namun demikian dalam kaitannya dengan perekonomian, dia juga mengatakan, meningkatnya ekspor Indonesia saat ini lebih banyak disebabkan naiknya harga komoditas di pasar dunia.
Sehingga dapat dipastikan daya saing Indonesia yang tidak berdasarkan kemampuan sendiri tersebut relatif mudah berfluktuasi tergantung pada kekuatan pasar yang tidak terkendali.
Handito beranggapan perlu dilakukan upaya-upaya sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Langkah awal adalah pembentukan "brand image" untuk Indonesia. (kpl/rit)