Ditemui wartawan di Kompleks Kantor Gubernur DIY Kepatihan, Yogyakarta, Senin, Sultan HB X mengatakan saat menghadiri pertemuan dengan Fraksi PAN DPR-RI di Jakarta, tidak ada pembicaraan tentang pencapresan tapi wartawan yang mengartikan bahwa dirinya siap maju sebagai capres jika ada parpol yang melamarnya.
"Pertemuan saya dengan fraksi PAN DPR-RI di Jakarta, 5 Oktober lalu, hanya untuk mengisi materi otonomi daerah bukan fit dan proper test sebagai capres. Pertemuan itu bukan penyampaian visi dan misi sebagai capres," katanya.
Menurut dia, saat ini belum waktunya bagi seorang pejabat yang belum habis masa tugasnya menyatakan dirinya sebagai capres. Namun, hal itu merupakan hak dan urusan pribadi mereka masing-masing.
"Saya belum positif maju sebagai capres, apalagi masa jabatan sebagai Gubernur DIY masih berlangsung hingga Oktober 2008," katanya.
Sementara itu, Permaisuri Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menyatakan mendukung jika suaminya maju sebagai capres pada pilpres 2009.
Meskipun demikian secara pribadi Sultan HB X belum membicarakan dengannya tentang rencana pencapresan Sultan HB X pada pilpres 2009.
"Ya, saat ini sebenarnya belum waktunya untuk membicarakan masalah pencapresan karena Sultan belum selesai masa tugasnya sebagai Gubernur DIY," katanya.
Menurut Hemas, jika Sultyan HB X sekarang mengarah ke pilpres dan bicara pencapresan padahal masih menduduki jabatan sebagai gubernur maka artinya beliau akan meninggalkan rakyat Yogyakarta yang masih butuh pemimpin.
"Namun, jika nanti Sultan sudah selesai masa jabatannya sebagai gubernur dan ternyata memang dikehendaki rakyat untuk menjadi capres maka saya harus mendukung," katanya.
Ia mengatakan, sampai sekarang Sultan belum membahas tentang pencapresan pada Pilpres 2009. "Jadi saya kaget waktu baca di koran yang menyebutkan bahwa Sultan siap maju sebagai capres, sebab sampai kini beliau belum membicarakan dengan saya mengenai pencapresan itu," kata GKR Hemas. (*/cax)